Pikiran kacau dan kekerasan mengundang respon setimpal dari air. Tsunami di Aceh pada Desembet 2004 masuk jauh dari garis pantai adalah contoh respon dan reaksi tersebut. Setali tiga uang dengan gempa dan tsunami di teluk Maumere 12 tahun sebelumnya adalah respon air atas cara bernelayan yang destruktif.
Saya merunduk haru pada sikap Keuskupan Maumere (KUM). KUM mengundang masyarakat untuk merayakan hari air sedunia, 22 Maret 2024, di Desa Magepanda. Catatan sederhana ini diilhami oleh undangan tersebut.
Perayaan hari air adalah perayaan cinta. Tepat benar lokus perayaan, di desa. Kita telah kehilangan banyak mata air akibat kekerasan dalam diri yang terekspresi lewat pembabatan pohon; lewat api yang membakar dan menghanguskan segala yang hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Uskup dan segenap gembala berada dan berdiri di tengah ladang dan huma. Menyerukan dan mengumandangkan cinta. Umat manusia di Nian Tanah Sikka, apa pun agama dan kepercayaannya, mesti merespon panggilan cinta ini. Cinta adalah air suci nirmala yang membersihkan pikiran, hati dan jiwa kita.
Pada titik ini, kita semua menjadi selaras dengan apa yang dikatakan Dr. Emoto dalam The Hidden Messages in Water: “Kita semua memiliki sebuah misi yang amat penting, yaitu membuat air menjadi bersih kembali, dan menciptakan dunia yang mudah dan sehat untuk dihuni. Untuk mewujudkan misi kita, pertama-tama kita harus memastikan hati kita sendiri bersih dan tidak tercemari.
“Sejak hari ini, kita harus menciptakan sejarah kita sendiri. Air sedang diam-diam dan secara hati-hati memantau arah yang sedang kita tuju. Saya hanya meminta pada anda untuk mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh air pada seluruh umat manusia, dan khususnya pada anda!”.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












