“Tapi, jika ada pihak lain yang mau menghargai karya seni ini, mungkin saya akan pertimbangkan,” ujar Darius Letor yang beraliran realistis itu.

Bakat Keturunan
Bakat seni Darius Letor diturunkan secara alamiah dari orangtuanya. Darius Letor mulai mengembangkan bakat tersebut sejak duduk di bangku SD Inpres Riangpuho. Dia melukis apa saja yang diminta guru dan teman-temannya. Bakat ini terus digiatkan hingga SMP.
Sewaktu sekolah di SMAK Seminari Hokeng, kreatifitas Darius Letor pelan-pelan mulai menghilang. Masalahnya, calon Imam itu lebih sibuk dengan kegiatan belajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah selesai dari Seminari Hokeng, Darius Letor yang kembali ke kampung halaman, mulai mengaktifkan kembali bakatnya. Dia sering diminta masyarakat atau gereja untuk membuat lukisan sesuai permintaan. Tidak hanya itu, Darius Letor sering mendekorasi pada acara-acara pesta atau kegiatan besar lainnya di Desa Waibao atau desa-desa tetangga.
Darius Letor pernah menjadi postulan di Maumere. Waktu itu dia sempat melukis pendiri Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus. Lukisan ini kemudian dipajang di tembok depan Kapel Postulat.
Anak kedua Darius Letor yang saat ini berumur 10 tahun, sepertinya memperpanjang daftar bakat keturunan seni rupa. Menurut Darius Letor, kini anaknya mulai aktif bergulat.dan bergelit dengan kanvas dan cat minyak.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












