

Maumere-SuaraSikka.com: Nama Gregorius Paulus Afrisal menjadi kebanggaan belakangan ini. Pelajar Kelas XI SMAK Frater Maumere itu terpilih menjadi salah satu wakil Propinsi NTT sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tahun ini.
Kebanggaannya bukan hanya karena itu saja. Pemuda berusia 17 tahun itu menjadi fenomenal karena perjuangannya menjadi Paskibraka. Perjuangannya tidak main-main, karena dia sadar finansial menjadi kendala bagi tekadnya untuk tampil di Istana Merdeka. Alalagi Ibu-nya hanya seorang penjual jagung bakar dengan pendapatan pas-pasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai atlit karate, Afril tahu betul makna sebuah perjuangan untuk mencapai “kemenangan”. Dia tidak menyerah begitu saja. Afril gigih membantu Ibu-nya untuk mengumpulkan uang. Setiap pulang sekolah dia mulai berjualan bakso pentol hingga menjadi tukang ojek demi mengumpulkan biaya keberangkatan ke Jakarta.
Magdalena Yuliana, ibu kandungnya, menjadi bagian yang tidak kalah penting dari perjuangan anak sulungnya itu. Kebanggaan yang begitu tinggi terhadap kepercayaan negara kepada anaknya, memaksa Magdalena Yuliana melakukan apa saja agar anaknya bisa tampil di Istana Negara pada Upacara Peringatan HUT ke-80 RI.
Bayangkan, ketika Afril mengikuti verifikasi kesehatan, Magdalena Yuliana sama sekali tidak punya uang. Perempuan enam anak ini terpaksa menjual kompor minyak tanah 30 sumbu seharga Rp 700 ribu. Uang penjualan kompor ini digunakan untuk biaya pemeriksaan ulang kesehatan di Maumere.
Menjelang keberangkatan Afril ke Kupang, Magdalena Yuliana juga mendapat uluran tangan dari Kesbangpol Sikka sebesar Rp 500 ribu. Uang belum cukup. Dia terpaksa meminjam. Bahkan handphone adik Afril terpaksa digadai.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












