“Kalau penertiban di kios-kios, kami dukung. Tapi yang terjadi tindakan kebablasan, langsung masuk kuwu, daerah-daerah yang memiliki basis produksi moke,” sentil Ketua PMKRI Maumere Fabianus Rowa.
Kasat Resnarkoba Polres Sikka Iptu Yakobus Kokleo Sanam, sebagai anak NTT kelahiran Kabupaten TTU, mestinya sadar betul bahwa moke merupakan bagian dari warisan budaya dan kental dengan adat istiadat.
Moke tidak hanya ada di Sikka. Dengan berbagai nama lain sesuai penyebutan, minuman tradisional sejenis ini ada pada hampir semua daerah di NTT. Aneh bin ajaib jika Iptu Yakobus Kokleo Sanam yang pernah bertugas antara lain di Polres Nagekeo dan Polres Lembata, tidak paham kaitan antara moke, budaya, dan adat istiadat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya adalah motivasi apa yang membuat Iptu Yakobus Kokleo Sanam “menggempur” kuwu? Apakah memang dia tidak paham? Ataukah ingin menampilkan ego dan kesombongan dalam tugas? Hanya Iptu Yakobus Kokleo Sanam yang tahu.
“Moke itu identitas budaya kami. Dari lahir hingga mati, moke adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya,” kritik sejumlah orator saat aksi di depan Mapolres Sikka, Kamis (6/11).
Ulah Kasat Resnarkoba ini bukan saja membuat resah ribuan warga produsen moke. Secara internal, ulah ini telah menampar wajah Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno. Pemimpin tertinggi kepolisian di wilayah hukum Polres Sikka itu harus dengan tegar menyampaikan permohonan maaf atas ulah anak buahnya. Sesuatu yang jarang sekali terjadi di lingkup institusi kepolisian.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















