Hana tentu merasa cemburu, tidak aman, bahkan terabaikan. Dia seperti sedang memikul beban yang begitu menyiksa dirinya, merasakan luka batin yang mendalam. Dia tidak punya pilihan selain menerima kenyataan. Apalagi, dalam budaya Yahudi saat itu, poligami diperbolehkan, sehingga Hana pun harus tunduk pada norma sosial yang ada.
Hana menjalani realitas ini dengan penuh sabar. Dia memilih untuk berdoa. Dalam doa yang penuh dengan air mata, dia mencurahkan isi hatinya dan bernazar kepada Tuhan, “Jika Engkau memberikan aku seorang anak laki-laki, aku akan menyerahkannya kembali kepada-Mu untuk seumur hidupnya.”
Doa Hana bukan sekadar permohonan, tetapi sebuah perjanjian dengan Tuhan. Tidak lama setelah pulang ke rumah, Hana mengandung. Dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kelak dia memberi nama Samuel, yang berarti “Aku telah memintanya dari Tuhan.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesuai janjinya, setelah Samuel disapih, Hana membawanya kembali ke Silo dan menyerahkannya kepada Imam Eli agar Samuel melayani Tuhan seumur hidupnya.
Cover belakang novel ini merangkum secara tegas dan lugas. Hana Namanya bercerita tentang perjalanan hidup seorang gadis bernama Hana, yang sejak kecil harus menghadapi kehilangan, pengkhianatan, dan rahasia keluarga yang disembunyikan rapat-rapat.
Hidupnya berubah ketika dia bertemu sosok yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Namun hubungan itu membawa Hana pada persimpangan antara memilih cinta atau mengungkap kebenaran masa lalu.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












