Dengan latar yang berpindah antara kenangan dan masa kini, novel ini menggambarkan perjuangan Hana untuk berdamai dengan dirinya sendiri, menerima luka, dan menemukan arti kebahagiaan sejati. Kisah Ini sarat dengan emosi, konflik batin, dan pesan moral tentang keberanian menghadapi kenyataan.
Resensi
Pater Oktavianus Tiwu Setu, O.Carm, seorang rekan Pater Patrick Wangge, mendalami serius novel ini. Sebagai seorang penyuka novel, dari Wisma Karmel Tosiga Jakarta Barat, Imam asal Manggarai itu lalu menuliskan resensi Hama Namanya.
Bagi Pater Oktavianus Tiwu Setu, Hana hanyalah seorang istri, seorang ibu rumah tangga yang pernah merasa tidak berdaya. Hana menunjukkan bahwa ketika manusia bersandar pada Tuhan, keajaiban bisa terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hana mengajarkan kita bahwa doa bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah kekuatan yang mampu mengubah hidup,” tulis Pater Oktavianus Tiwu Setu.
Menurut Pater Oktavianus Tiwu Setu, Hana Namanya merupakan hasil olahan kreasi imajinasi yang dipadukan dengan rangkaian pengalaman Pater Patrick Wangge. Substansinya mengalir dan jatuh secara tidak kebetulan menyentuh setiap sisi kehidupan manusia.
“Refleksinya begitu apik, memukau dan bahkan Pater Patrick mengisahkan cita rasa yang unik dan menukik pada setiap akhir dari cerita,” ujar Pater Oktavianus Tiwu Setu.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












