Melchias Mekeng meminta aparat penegak hukum melakukan tugas dengan baik, karena rakyat menanti suatu kehidupan yang normal, toleransi, saling menyayangi, saling menghargai satu sama lain di NKRI yang berdasarkan Pancasila.

Masalah Kesadaran
Pada bagian lain, Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X juga menanggapi kasus pembubaran kebaktian jemaat Gereja Kristen Misi Sejahtera. Sultan menegaskan perbedaan merupakan keniscayaan yang tidak seharusnya diperdebatkan.
“Jadi sebetulnya perbedaan itu keniscayaan. Memang ciptaan-Nya begitu. Bukan dia yang paling benar sendiri, enggak ada,” papar Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (25/5) sebagaimana dikutip dari SuaraJogja.id.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Sultan, manusia memang diciptakan dalam keberagaman, baik dari sisi ras, agama, maupun asal-usul. Karena itu, tidak ada pihak yang berhak merasa paling benar sendiri. Sultan menyebut keberagaman merupakan bagian dari kehendak Tuhan yang harus dipahami dan diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Karenanya insiden pembubaran kegiatan ibadah yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan kurangnya kesadaran serta pemahaman mengenai toleransi dan keberagaman.
“Ya masalah kesadaran aja, pemahaman aja,” ujar dia.
Front Jihad Islam
Kasus pembubaran ibadah sebelumnya viral di media sosial. Peristiwa itu disebut terjadi di GMS pada Sabtu (23/5). Saat jemaat menggelar ibadah syukur di lokasi baru tersebut, muncul penolakan dari kelompok masyarakat yang mempertanyakan legalitas dan izin penggunaan bangunan sebagai tempat ibadah.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












