


Maumere-SuaraSikka.com: Rabies di Kabupaten Sikka terus mengganas. Sudah 4 orang meninggal dunia pada tahun 2024 ini. Namun Penjabat Bupati Sikka Adrianus Firminus Parera terkesan lamban mengoordinir penanganan dan pencegahan.
Salah satu indikator lambannya penanganan rabies, terlihat dari Rapat Koordinasi Penanganan Rabies yang dilaksanakan pada Rabu (17/4) baru lalu. Rakor digelar persis setelah seorang warga Palue meninggal dunia akibat rabies pada pagi harinya. Terkesan Rakor dilaksanakan secara mendadak karena ada kasus kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rakor tersebut menghasilkan beberapa keputusan antara lain akan dibentuk Posko Penanganan Rabies. Padahal gagasan membentuk Posko Penanganan Rabies sudah disepakati pada Rapat Koordinasi Penanganan Rabies yang dilaksanakan pada 18 Maret 2024, sehari setelah rabies ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Fakta ini menunjukkan bahwa kurang lebih 1 bulan ini, Penjabat Bupati Sikka tidak mampu melakukan koordinasi yang apik dan terukur dalam upaya penanganan dan pencegahan rabies.
Fakta lain lambannya koordinasi Penjabat Bupati Sikka menangani rabies yakni makin tingginya kasus gigitan anjing di Kabupaten Sikka. Saat penetapan KLB Rabies, terdapat 500 kasus gigitan. Namun satu bulan sesudahnya terjadi peningkatan drastis yakni 903 kasus gigitan.
Menyusul penetapan KLB Rabies, Penjabat Bupati Sikka menerbitkan imbauan Pemberantasan Penyakit Rabies di Kabupaten Sikka. Namun imbauan yang berisi 6 poin, terkesan formalitas saja. Tidak ada tindakan responsif untuk meminimalisir perkembangan penyakit rabies yang lebih meluas dan berkesinambungan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












