


Maumere-SuaraSikka.com: Bantuan sembako untuk warga terdampak gempa bumi tektonik di Desa Nitunglea masih tertahan di Posko Logistik di Kantor Kecamatan Palue. Anak-anak di desa itu terpaksa menjadi relawan demi ikut menyalurkan bantuan. Tragisnya, mereka harus melewati 5 titik longsor ekstrim yang bisa mengancam nyawa.
Anak-anak tersebut tidak sendirian menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam. Mereka mengikuti inisiasi warga masyarakat dan sejumlah aktivis PMKRI Maumere yang selama beberapa hari ini ikut membantu penanganan kemanusiaan di daerah terpencil itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua PMKRI Maumere Johan De Brito Papa Naga yang sedang berada di Nitunglea, menginformasikan bahwa warga Desa Nitunglea masih kesulitan mendapatkan bantuan karena kondisi akses transportasi yang tidak ideal akibat rusaknya infrastruktur jalan menyusul gempa bumi tektonik.
“Masyarakat dan pemuda di sini langsung turun ambil sembako di Posko Logistik. Ada anak-anak yang ikut juga. Persoalannya harus melewati lokasi ekstrim yang dipenuhi material longsor, dan ini sangat berisiko, bisa mengancam nyawa,” terang Johan De Brito Papa Naga kepada media ini melalui pesan WhatsApp Kamis (20/8).
Aktivis mahasiswa ini mengaku cemas dengan penyaluran distribusi bantuan sembako secara manual hingga keterlibatan anak-anak. Dia berharap pemerintah daerah setempat segera mencari jalan keluar, antara lain dengan menurunkan lebih banyak personil TNI/Polri untuk secara bersama-sama bergotong royong menyalurkan bantuan.
Data yang dihimpun media ini, bantuan sembako yang didistribusi melalui Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi di Maumere, disalurkan ke Posko Logistik yang terletak di Kantor Kecamatan di Desa Reruwairere. Untuk sampai ke Desa Nitunglea, harus melewati Desa Maluriwu, Ladolaka, Tuanggeo, dan Rokirole, dengan 5 titik ekstrim yang mengancam nyawa.
Halaman : 1 2 Selanjutnya















