Kementerian Luar Negeri Jerman Pilih Smater sebagai Sekolah Mitra Masa Depan

0
368
Kementerian Luar Negeri Jerman Pilih Smater sebagai Sekolah Mitra Masa Depan
Kepala SMAK Frateran Maumere Frater M. Polikarpus menerima utusan dari Goethe Institut Jakarta saat pembukaan kegiatan Science Film Festival dan Food Revolution di Aula Mardiwiyata, Jumat (2/11)
Maumere-SuaraSikka.com: SMAK Frateran Maumere mencatat lagi satu prestasi di bidang pendidikan. Kali ini datang dari Kementerian Luar Negeri Jerman. Melalui Goethe Institute Jakarta, sekolah ini dipilih sebagai sekolah mitra masa depan (PASCH).
Penentuan SMAK Frateran Maumere sebagai sekolah mitra masa depan dilakukan melalui survey yang dilaksanakan pada Agustus 2018 lalu. Penadatanganan kesepakatan kerja sama ini baru akan dilakukan pada Desember 2018 mendatang oleh Kedutaan Besar Jerman.
Menjelang penandatanganan kesepakatan kerja sama dan penyerahan plakat, SMAK Frateran Maumere ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Science Film Festival (SFF) dan Food Revolution (FR). Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat-Sabtu (2-3/11) di Aula Mardiwiyata, dihadiri 1.200 siswa-siswi utusan dari sekolah dasar, sekolah menegah pertama, dan sekolan menengah atas di dalam Kota Maumere.
Kepala SMAK Frateran Maumere Frater M. Polikarpus BHK membuka secara resmi kegiatan ini. Dia mengaku bangga karena tahun 2018 merupakan tahun berkah bagi sekolah tersebut.
“Sebelum ini SMAK Frateran Maumere mendapat status sebagai sekolah rujukan nasional. Dan kali ini sebagai sekolah mitra masa depan dari Kementerian Luar Negeri Jerman melalui Goethe Institut Jakarta. Ini sekolah mitra yang ke-29 di Indonesia,” ungkapnya bangga.
Hal yang sangat positif dari sekolah mitra masa depan, tutur Frater Polikarpus,  yakni terselenggaranya SFF dan FR. Pada dua kegiatan ini, siswa-siswi SMAK Frateran Maumere dilibatkan dalan mengolah makanan dari bahan oangan lokal yang go international.
Frater Polikarpus mengimbau peserta untuk memanfaatkan momen SFF dan FR secara baik. Film yang diputar pada kegiatan itu sesuai tingkat usia di mana eksperimen dikemas sedemikian rupa untuk membuka wawasan dan membangun kreatifitas.
Pada bagian lain, Ade Umar Said selaku Koordinator PASCH Goethe Institut Jakarta mengatakan belajar science bukan hanya di ruangan dengan metode klasik.
“Siswa termotivasi untuk belajar science lewat menonton film dan eksperimen yang dikemas sebaik mungkin sehingga mudah dipahami. Materi film dan eksperimen fokus pada isu lingkungan, sosial dan ekologi,” ujar Ade Umar Said.
Sementara itu Junita Sari dan Raden Isum selaku Volunter SFF 2018 mengaku sangat senang melihat antusias siswa dari sekolah-sekolah. Para peserta tampak gembira dan hanyut dalam eksperimen seperti penangkap nyamuk dari gula ragi dan air, reprika hujan ditambah air dan pewarna, serta gelembung dalam gelembung.
SFF dan FR yang baru pertama kali dilaksanakan di NTT dan khususnya di Maumere ini menuai tanggapan positif dari para kepala sekolah dan siswa sekolah dasar. Maria Talentina Daba, Kepala SD Negeri Napung Langir misalnya,  mengakui anak-anak didiknya sangat senang dengan kegiatan ini.
“Ternyata anak-anak mengatakan belajar science itu menyenangkan bukan menjadi momok yang menakutkan,” kata Talentina Daba.
Demikian pun Suster Yuli, SSpS menanggapi positip. Dia mengaku kegiatan ini sangat penting karena anak-anak didik sejak dini sudah diperkenalkan dengan science. Dengan demikian anak-anak dituntut untuk berkreasi, dan hal ini merupakan tuntutan kurikulum.
Hal yang sama disampaikan Miranda dan siswa-siswi SDN Contoh Maumere. SFF dan FR, kata mereka, telah membuka wawasan untuk berkepsresi. Mereka berharap kegiatna seperti ini rutin digelar setiap tahun.*** (yuv)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini