Guru Muslim Ini Betah Berkarya di Sekolah Katolik
Dibaca 151 kali
Glewo Suyanto (kacamata) pose bersama dua Frater Bunda hati Kudus dan seorang guru SMPK Frater Maumere
Maumere-SuaraSikka.com: Menjadi guru merupakan panggilan mulia dan memiliki tugas kenabian yang sangat luhur. Ini yang dialami Glewo Suyanto, seorang guru komputer di SMPK Frater Maumere. Meski berlatarbelakang Muslim, dia justeru betah berkarya di sekolah Katolik. Dia menjadi satu-satunya guru Muslim yang mengabdi pada sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata Frateran Bunda Hati Kudus (BHK).
Glewo Suyanto yang biasa dipanggil Anto oleh rekan-rekan guru, karyawan maupun anak didik, sudah mengajar di SMPK Frater Maumere sejak tahun 2004. Jebolan Universitas Jember tahun 1989 ini sama sekali tidak merasa sebagai minoritas. Justeru dia mampu berbaur dengan sangat baik. Apalagi lingkungan BHK memperlakukan dia sebagai seorang guru yang profesional dan penganut Muslim yang toleran.
Karena itu tidak heran jika laki-laki kelahiran Surabaya ini, tidak tampak canggung, grogi, atau minder berada di lingkungan sekolah Katolik. Justeru SMPK Frater Maumere dianggapnya sebagai rumah kedua, yang selalu memberikan dia rasa nyaman dan tenteram dalam seluruh tugas dan abdinya, baik untuk kepentingan pendidikan, maupun urusan sosial kemasyarakatan.
“Saya merasakan betapa tingginya toleransi dan saling menghormati di sekolah ini, juga di daerah ini, Maumere secara khusus dan NTT secara umum. Karena itu saya selalu bilang NTT itu artinya Nusa Terindah Toleransinya. Saya merasa sangat nyaman sekali di sini,” ungkap suami Indrianing Tyas ini.
Di SMPK Frater Maumere, di rumah keduanya, Glewo Suyanto merasakan toleransi itu. Setiap hari Jumad misalnya, ketika dia dalam kesibukan tugas, sering kali dia diingatkan rekan-rekan guru untuk tidak lupa melaksanakan sholat. Glewo Suyanto mengaku merasa terharu dengan tingginya perhatian rekan-rekan guru yang semuanya beragama Katolik.
Seorang rekan guru bernama Thomas Tungga punya penilaian khusus terhadap ayah tiga anak ini. Setiap hari pada saat doa pagi di halaman tengah sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar, Glewo Suyanto tidak pernah absen. Saat semua berdoa secara Katolik, Glewo Suyanto juga ikut berdoa secara Muslim. Dan uniknya, dia sering mengambil sikap doa dengan tangan terkatup sebagaimana layaknya penganut Katolik.
“Kalau doa pagi, Pa Anto biasanya katupkan tangan. Orang yang baru pertama kali mengenal, pasti berpikir dia ini agama Katolik,” kesan Thomas Tungga, jebolan STFK Ledalero.
Glewo Suyanto bersama keluarga sudah 14 tahun tinggal di Kota Maumere. Dia merasakan indahnya hidup dalam pesaudaraan dan kekeluargaan pada daerah yang mayoritas umat beragama Katolik. Bagi dia sikap toleransi yang dia alami selama ini di Maumere harus terus ditingkatkan dan dibina dari hari ke hari.*** (yuv)