“Sembunyi” di Hebing, Januarius Joni Diamankan Polisi
Dibaca 41 kali
Januarius Joni sedang diamankan di Mapolres Sikka, Senin (7/1)
Maumere-SuaraSikka.com: Kabar tentang longsoran tanah di rumahnya yang berakibat kepada tewasnya 3 anak, membuat Januarius Joni, si pemilik lahan terpaksa “sembunyi”. Dia mengucilkan diri di Desa Hebing Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka Propinsi NTT, tidak jauh dari lokasi kejdian. Namun kini yang bersangkutan sudah diamankan pihak kepolisian di Polres Sikka.
Januarius Joni yang ditemui di Mapolres Sikka, Senin (7/1) malam, mengaku mendengar kabar naas itu dari seorang pegawai Kantor Desa Hebing. Saat itu dia sedang berada di Kantor Desa Hebing untuk koordinasi menyangkut pekerjaan rabat jalan di desa tersebut.
Awalnya dia berniat untuk segera kembali ke rumahnya di Dusun Watuwolot Desa Hale. Namun pegawai Kantor Desa Hebing mencegahnya, karena menurut informasi sudah banyak warga masyarakat dan keluarga korban yang berada di lokasi kejadian. Pegawai Kantor Desa Hebing ini kuatir terjadi sesuatu di luar dugaan jika Januarius Joni berada di rumahnya.
“Saya niat kembali (ke lokasi kejadian), tapi pegawai itu larang, katanya keluarga korban sudah ribut-ribut di rumah. Jadi saya bertahan dulu di kantor desa,” ujar Januarius Joni.
Berita Terkait:
Pemilik lahan ini kemudian merasa tidak tenang jika terus “bersembunyi” di kantor desa. Dia lalu berpikir untuk sebaiknya mengamankan diri ke polisi. Dan akhirnya dia mencegah rombongan Kapolres Sikka AKBP Rickson Situmorang yang hendak kembali dari lokasi kejadian menuju Maumere.
Saat mendengar bunyi sirene dari mobil polisi, sekitar pukul 18.00 Wita, Januarius Joni didampingi seorang keluarga, langsung mencegah di jalanan di Desa Hebing. Dia mengenakan kain lipa berwarna hitam, yang menutup sebagian wajahnya. Kepada aparat kepolisian dia mengaku sebagai pemilik lahan, dan meminta pengamanan. Januarius Joni pun langsung diamankan di mobil pengendali massa.
Kapolres Sikka melalui Kasat Reskrim Iptu Heffri Dwi Irawan mengatakan pihaknya akan mengambil keterangan dari Januarius Joni. Hingga kini belum diketahui bagaimana perkembangan selanjutnya peristiwa tanah longsor yang memakan korban 3 anak di bawah umur di dusun itu.
Kepada media ini di Mapolres Sikka, Januarius Joni mengaku anak-anak korban tewas tersebut sering menambang pasir di lahan miliknya. Namun dia mengaku tidak setiap hari. Januarius Joni membeli pasir hasil tambang anak-anak itu dengan harga Rp 5.000 untuk ukuran 3 sak semen.
Januarius Joni mengelak di sebut telah mempekerjakan anak di bawah umur. Menurut dia, anak-anak tersebut yang sering meminta izin untuk menambang pasir guna mendapatkan uang.
Sebagaimana diberitakan, Petrus Afriandi, 10 tahun, Emanuel Jefrianto, 8 tahun, dan Silferius Silik, 11 tahun, tewas di tempat akibat longsoran tanah. Saat itu ketiganya sedang menambang pasir di lahan milik Januarius Joni. Sementara satu orang lagi yakni Marselinus Moa alias Doli, 20 tahun, berhasil diselamatkan, dan langsung dilarikan ke RSUD TC Hillers Maumere.*** (eny)