Tidak Tahan Dianiaya, Seorang Istri Seret Suaminya ke Polisi

1
262
Tidak Tahan Dianiaya, Seorang Istri Seret Suaminya ke Polisi
YM, korban kekerasan dalam rumah tangga sedang melaporkan suaminya di SPKT Polres Sikka, Rabu (9/1) siang
Maumere-SuaraSikka.com: YM, perempuan 31 tahun mendatangi SPKT Polres Sikka, Rabu (9/1) siang. Dia membawa serta dua orang anak laki-lakinya, berusia 8 tahun dan 2 tahun. Perempuan ini nekad menyeret suaminya, KY, 31 tahun, ke polisi karena sudah tidak tahan dianiaya terus-menerus.
Dia mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sejak anak pertamanya baru berusia 5 bulan. Penganianyaan terus terjadi dan semakin menjadi-jadi. Hingga yang terakhir dia alami pada Selasa (8/1) malam, di rumah kontrakan mereka di Jalan Lamtoro Centrum Kelurahan Nangameting Kecmatan Alok Timur Kabupaten Sikka Propinsi NTT.
“Saya sidah tidak tahan lagi. Biar kami dua pisah saja. Makanya saya lapor ke polisi supaya dia diproses hukum, dipenjara. Biar anak dua ini saya yang urus,” ujar YM di SPKT Polres Sikka sambil menggendong anak bungsunya.
YM mengatakan tidak ada masalah yang serius antara dia dan suaminya yang seorang tukang ojek. Tapi suaminya selalu mencari-cari alasan dari hal yang kecil-kecil. Misalnya soal waktu makan yang terlambat, atau kalau anak lagi dalam keadaan sakit.
“Tadi malam dia pulang ojek, lalu ajak ke kampungnya karena katanya anak kami yang sulung sakit. Saya bilang ini sudah malam, besok pagi saja, sekalian bawa ke Puskesmas. Dia langsung pukul saya punya kepala, dan terus-menerus tempeleng dua pipi saya,” cerita YM.
Mengalami tindakan tesebut, perempuan ini lalu menghindar dengan keluar dari rumah. Dia kuatir suaminya berbuat hal yang lebih keji lagi. Namun KY justeru mengejar YM dan menarik masuknya ke dalam rumah, lalu kembali menganiaya.
YM akhirnya mengambil sikap lari dari rumah dan langsung menuju Sekretariat TruK (Tim Relawan untuk Kemanusiaan) di Jalan Ahmad Yani, tidak jauh dari rumah kontrkannya. Dia menginformasikan kejadian yang dia alami selama kurang lebih 11 tahun hidup berumah tangga dengan suaminya.
Menurut YM, sewaktu masih tinggal bersama orang tua KY di Desa Teka Iku Kecamatan Kangae, tindakan penganiayan sudah sering dilakukan. Dia sudah beberapa kali mengadu ke kantor desa, dan pihak desa kemudian menyelesaikan dengan meminta KY membuat pernyataan tertulis.
Bukannya insaf, tapi KY terus melakukan penganiayaan. Pemerintah desa pun akhirnya angkat tangan dan menyarankan jika terjadi lagi langsung ke kantor polisi. YM juga pernah melaporkan tindakan penganiayaan suaminya ke Polsek Kewapante. Tapi surat pernyataan dan mediasi damai belum bisa memhentikan perilaku KY terhadap istrinya.
“Sudah terlalu sering dia aniaya saya. Di Desember tahun lalu sekitar 4-5 kali. Dia pukul badan, kepala, dan tempeleng. Bahkan pernah dia mau bunuh saya. Terus terang, saya sudah tidak tahan lagi. Lebih baik dia dipenjara, biar saya hidup tenang,” ujar YM yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin tenun ikat.
Seorang saksi mata yang mendampingi YM di SPKT Polres Sikka mengaku sudah terlalu sering melihat YM dianiaya suaminya. Dia merasa kasihan dengan YM karena mengalami perlakukan yang tidak terpuji dari suami sendiri. Ketika YM hendak melapor ke polisi, dan meminta dia menjadi saksi, dia pun ikut untuk memberikan keterangan. Selain saksi mata ini, YM juga didampingi seorang staf TruK.
Hingga siang tadi belum diketahui apalah polisi sudah menjemput KY atau belum. Informasi dari YM, usai menganiaya, sang suami membawa seluruh pakaiannya. Diperkirakan dia mengevakuasi diri di rumah orang tuanya di Desa Teka Iku.*** (eny)

KOMENTAR

  1. Walupun penambang pasir tersebut tu atas kemauan mereka,,,tetapi mereka pekerjax,walaupun tdk di suruh mereka dpt upah,,,antara ia dan tidak sipemilik tanah harus bertnggung jawab atas kejadian trsbt,,,kami keluarga korban serahkan semuanya pada hukum,,,biar hukum yang berbicara,,,,klw tidak nanti akan ada korban lagi,

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini