Maumere-SuaraSikka.com: Tindakan brutal dilakukan salah seorang warga Desa Parumaan di Kabupaten Sikka. Dia mengangkat parang dan mengancam tenaga kesehatan yang akan melakukan pengambilan swab di desa itu.
Laki-laki warga Desa Parumaan ini menolak mengikuti swab. Padahal dia adalah salah satu orang yang diketahui pernah kontak erat dengan seorang warga yang sebelumnya sudah divonis terpapar virus corona.
Petugas kesehatan Satgas Covid Sikka sebanyak 7 orang mendatangi Parumaan pada Sabtu (30/5) pagi. Mereka tidak didampingi aparat keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketidakhadiran aparat keamanan karena atas permintaan warga di sana. Waktu itu mereka berjanji bersedia menjalani rapid test dan swab jika petugas kesehatan tidak didampingi aparat keamanan.
Petugas kesehatan yang sudah berada di Parumaan harus menunggu 2 jam lamanya untuk negosiasi kembali. Ternyata 7 orang yang rencananya rapid test dan swab mangkir dari kesepakatan. Mereka justeru menolak rapid test dan swab.
Bahkan salah seorang warga dengan cara kasar mengangkat parang dan mengancam petugas kesehatan. Karena terancam dan merasa tidak nyaman, akhirnya petugas kesehatan memutuskan pulang ke Maumere.
Ini adalah bentuk penolakan warga Parumaan yang ketiga kalinya. Mereka menolak dengan alasan kuatir ditempatkan di lokasi karantina terpusat di Maumere.
Jurubicara Satgas Covid Sikka Petrus Herlemus yang dikonfirmasi, membenarkan peristiwa pengancaman petugas kesehatan oleh warga Parumaan.
Dia mengaku kecewa sekali dengan sikap warga yang menolak rapid test dan swab, bahkan sampai mengancam petugas kesehatan.
Rencananya, Minggu (31/5), Satgas Covid Sikka kembali turun ke Parumaan, lengkap dengan aparat keamanan. Jika ada warga yang masih menolak rapid test dan swab, maka pihaknya akan langsung menjemput paksa ke Maumere.*** (eny)















