Maumere-SuaraSikka.com: Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sikka Stef Sumandi marah, lantaran Poskesdes Glak dan Poskesdes Egon Gahar di Kecamatan Mapitara hingga kini tidak ada tenaga kesehatan (nakes).
Kondisi ini, kata dia, sudah terjadi cukup lama. Akibatnya, masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan terpaksa harus mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) yang lain.
“Di Poskesdes Glak, tidak ada nakes, tidak ada alat kesehatan, tidak ada penerangan. Begitu juga di Poskesdes Egon Gahar, tidak ada nakes. Lalu gedung itu manfaatnya untuk apa?” tanya Ketua Fraksi PDIP itu saat rapat anggaran bersama Dinas Kesehatan Sikka, Selasa (24/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi ini, Stef Sumandi menangkap kesan pembangunan gedung-gedung kesehatan yang seharusnya berfungsi sebagai sarana prasarana pelayanan kesehatan, ternyata hanya untuk target pekerjaan proyek saja.
Padahal, kata dia, kehadiran Poskesdes Glak untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah itu dan sekitarnya, terutama tingginya kasus kematian warga masyarakat akibat tidak adanya intervensi kesehatan.
“Saya sampaikan ini bukan karena kasus kemarin. Tapi justeru Poskesdes Glak itu dibangun karena kejadian serupa sudah sering terjadi. Sekarang setelah dibangun, itu pun masih ada kejadian yang sama. Artinya, saya tidak melihat ada keseriusan pemerintah terhadap kondisi ini,” terang Stef Sumandi.
Stef Sumandi meminta kepastian Dinas Kesehatan agar sejak tahun 2021 kondisi tidak adanya pelayanan kesehatan di dua Poskesdes itu tidak boleh terjadi lagi.
Kondisi yang sama juga terjadi di Puskesmas Hewokloang. Anggota Banggar Yoseph Don Bosko juga menginformasjkan kekurangan nakes di Puskesmas Hewokloang. Dia membandingkan dengan kelebihan nakes yang terjadi di Puskesmas lain seperti Puskesmas Waipare.
Kepala Dinas Kesehatan Petrus Herlemus menjelaskan pihaknya sudah melakukan kajian dan menyampaikan kepada BKDPSDM Sikka, selaku institusi teknis yang mengatur penempatan aparatur sipil negara termasuk nakes.
“Kami sudah sampaikan kajian berulang kali. Wewenang kami hanya sebatas itu saja. Tadi malam saya sempat bersitegang dengan Kepala BKDPSDM agar mempercepat penempatan nakes, jangan tunggu ada korban dulu,” jelas dia.
Dia mengakui untuk saat ini terjadi penumpukan nakes di Puskesmas Kota, Puskesmas Wolomarang, dan Puskesmas Nita. Sementara sebaliknya masih terdapat kekurangan nakes di sejumlah Puskesmas dan Poskedes.
Penjabat Sekda Sikka Wihelmus Sirilus menyampaikan permohonan maaf atas lambannya penempatan nakes pada sejumlah Puskesmas dan Poskesdes di Kabupaten Sikka.
Dia mengaku dalam waktu dekat ini pemerintah akan segera menempatkan tenaga-tenaga kesehatan.
“Saya sudah paraf undangan untuk 119 orang, harap segera didistribusi,” jelas dia.
Masalah nakes terus menjadi sorotan kritis DPRD Sikka sejak pembahasan KUAPPAS September lalu. Hal ini dipicu oleh terbitnya surat tugas sementara kepada 50-an nakes.
Kebijakan ini menjadi menarik karena diketahui mutasi sementara itu dilakukan atas dasar usulan dari nakes yang bersangkutan. Akibatnya menjadi blunder karena terjadi kekurangan nakes pada sejumlah faskes, sementara faskes lainnya justeru terjadi penumpukan.*** (eny)















