


Maumere-SuaraSikka.com: Vaksinator rabies pada Dinas Pertanian tengah mengalami kendala besar. Persoalannya masih banyak pemilik anjing yang menolak anjing milik mereka divaksin.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Yohanes Emil Satriawan, Selasa (16/5), terkait kegiatan vaksinasi yang tengah berlangsung saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Vaksinator kami mengalami banyak hambatan, karena sikap pemilik anjing yang tidak kooperatif,” jelas mantan Camat Bola yang biasa disapa Jemmy Sadipun.
Dia menyebutkan beberapa alasan penolakan seperti anjing akan dipotong untuk konsumsi, anjing sedang bunting, anjing yang dilepas susah ditangkap, bahkan ada juga yang mati-matian tidak mau anjing divaksin.
Dia mengatakan sebelum melakukan vaksinasi, biasanya vaksinator memberikan pemahaman kepada pemilik anjing. Namun seperti apapun pemahaman yang diberikan, faktanya masih banyak yang menolak vaksinasi.
“Kami temukan orang yang menurut kami sumber daya manusia cukup baik, artinya mengerti dengan maksud dan tujuan vaksinasi, serta realitas kasus rabies yang terjadi di sini, itu saja menolak,” ujar dia kesal.
Ketika sedang memberikan penjelasan, mendadak seorang vaksinator menelepon Kadis Pertanian. Vaksinator tersebut menginformasikan sikap seorang pemilik anjing yang tidak mau anjingnya divaksin.
“Kan Pa wartawan bisa dengar sendiri toh. Jadi seperti itulah kendala yang kami hadapi di lapangan,” ujar dia.
Dia mengatakan ada Kamis (11/5) Dinas Pertanian mendapatkan VAR sebanyak 2520 dosis dari Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Sehari setelah mendapat VAR, vaksinator langsung melakukan vaksinasi. Konsentrasi vaksinasi pada lokasi-lokasi kasus gigitan anjing, dengan radius 1 kilometer kiri kanan lokasi kejadian.
“Kami fokus ke Desa Habi, Desa Langir, juga Kelurahan Waioti,” ujar dia.
Hingga Senin (15/5), lanjut dia, vaksinator sudah menghabiskan 851 dosis. Masih tersisa 1.669 dosis yang akan terus dimanfaatkan untuk vaksinasi pada hewan penular rabies.
Jemmy Sadipun mengimbau kepada pemilik anjing untuk mendukung kegiatan vaksinasi yang sedang dijalankan Dinas Pertanian melalui Bidang Kesehatan Hewan.
“Saya mohon dengan sangat, pemilik anjing harus bersedia anjingnya divaksin. Ini semua untuk kepentingan kita bersama,” pinta dia.
Sebagaimana diketahui, hingga sekarang sudah 17 sampel spesimen otak anjing yang diperiksa di Laboratorium di Denpasar.
Dari jumlah sampel tersebut, diketahui 10 di antaranya positip, dan seorang warga Kabupaten Sikka dinyatakan meninggal akibat rabies.
Terbaru, seorang bocah berusia 2 tahun, warga Dusun Bokang Desa Lewomada Kecamatan Talibura, digigit anjing, Senin (15/5) malam.
Korban kemudian dilarikan ke Puskesmas Watubaing, dan selanjutnya dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere.
Dokter Puskesmas Watubaing Dokter Servas mengatakan pasien tersebut dirujuk karena lokasi gigitan anjing pada wajah pasien termasuk dalam lokasi yang berisiko tinggi untuk perkembangan virus rabies pada pasien gigitan.*** (eny)




















