Petrus da Silva dari Partai Nasdem juga mengalami hal yang sama. Mantan Kepala BPKAD Sikka yang cakap dalam hal anggaran, kalah bersaing dari pendatang baru. Ketua Komisi 3 DPRD Sikka itu hanya memperoleh 577 suara, dan berada di urutan keempat. Lima tahun lalu, dia menjadi wakil rakyat dengan perolehan 977 suara.
Ketua Komisi 2 DPRD Sikka Alfridus Melanus Aeng gagal menembus periode kelima berturut-turut sebagai anggota DPRD Sikka. Petahana PKP yang mencalonkan diri dari Partai Garuda, terpaut 102 suara dari petahana lainnya Hyginus Claudius Daga.
Wenseslaus Wege dengan 832 suara menjadi pengumpul suara terbanyak dari Partai Hanura di Dapil Sikka 3. Modal ini belum cukup. Partai Hanura yang mengoleksi 2.653 suara hanya finis di urutan ke-10, berada satu tingkat di bawah PSI yang mengunci kursi terakhir. Lima tahun lalu Partai Hanura berada pada posisi ke-5 dengan 4.032 suara, antara lain disumbangkan 1.038 suara oleh Wenseslaus Wege.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Simon Subandi Supriadi yang menjadi wakil rakyat dalam status pergantian antarwaktu, kembali harus puas di posisi kedua pengumpul suara terbanyak PKB di Dapil Sikka 3. Legislator 2 periode itu terpaut hanya 85 suara dari pendatang baru Agustinus Adeo Datus.
Gedung Kulababong DPRD Sikka kehilangan banyak pentolan “tukang kritik”. Bisa jadi mereka akan ikut ambil bagian dari luar sistem, apalagi semua mereka merupakan sumber daya dan aset pada masing-masing partai politik.
Meski demikian warna demokrasi tidak bakal berubah jauh. Masih ada beberapa vokalis yang patut diandalkan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat di daerah itu.
Sebut saja Stef Sumandi dan Darius Evensius dari PDlP, Yoseph Don Bosko dari PKB, Gorgonius Nago Bapa dan Antonius Hendrikus Rebu dari Partai Golkar, Fransiskus Stephanus Say, Sufriyance Merison Botu dan Fabianus Toa dari Partai Gerindra, Bahrudin dari PKS, serta Alexander Agatho Hasulie dan Yosef Nong Soni dari Partai Nasdem.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












