Ansy Lema mempertanyakan alasan tingginya tenaga kerja asal NTT yang keluar negeri untuk bekerja menjadi buruh migran. Menurut dia, hal itu dilatarbelakangi persoalan minimnya lapangan kerja. Pemprop NTT, sebut dia, harus mencarikan solusi untuk menjawabi masalah minimnya lapangan kerja di NTT.
Untuk itu, lanjut dia, membangun NTT tidak harus dengan skema APBD dan APBN. Tapi harus mendorong pembiayaan pembangunan NTT lewat sektor-sektor non-APBD dan non-APBN dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga menciptakan lapangan pekerjaan baru.
“Dalam penumpasan kejahatan kemanusian (TPPO), betul-betul selektif dan ketat dengan membangun koordinasi dengan pihak-pihak yang mengurus pengiriman tenaga kerja ke luar NTT. Sehingga penegakan tidak hanya untuk hukum, tapi lebih kepada keadilan. Ini juga yang harus didorong,” ujar dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendidikan
Pada bagian lain Ansy Lema juga mendorong lebih diperhatikannya fasilitas dan kesejahteraan guru di sekolah-sekolah kejuruan atau vokasi. Cara pandang ini makin menguat ketika beberapa waktu lalu dia mengunjungi sejumlah SMA dan SMK di Pulau Flores.
“Di sana saya melihat banyak persoalan. Ke depan, nanti kami punya bank masalah dan aspirasi yang akan kami kerjakan agar sektor pendidikan dapat menjadi perhatian yang lebih luas,” ujar Ansy Lema.
Bagi Ansy Lema, pendidikan adalah jalan terbaik untuk melakukan mobilitas vertikal menuju kesuksesan. Karena itu bersama Jane Natalia Suryanto, dia akan menaruh perhatian serius pada bidang pendidikan.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












