Seminar ini bertujuan untuk mengkaji dampak dan potensi kecerdasan buatan (AI) pada generasi muda khususnya, serta bagaimana teknologi ini dapat dijembatani dengan kesehatan mental dan nilai-nilai budaya.
Para peserta diajak berdiskusi agar memahami bagaimana teknologi Al yang ramah terhadap kemanusiaan dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas, inklusif dan sehat holistik.
“Dalam dunia yang semakin digital, kita semua, khususnya generasi muda harus mengingat bahwa teknologi seperti Al bukan hanya alat untuk kemajuan intelektual, ekonomi, dan kenyamanan semata, tetapi juga harus dibarengi dengan perhatian pada kesehatan holistik dan nilai-nilai kemanusiaan. Dan nilai-nilai itu ada di dalam budaya Nusantara, yakni Gotong Royong dan Pancasila. Pertahanan budaya berupa nilai-nilai universal dan spiritual ini perlu dijaga dan dilestarikan untuk menjaga kemanusiaan kita,” demikian Anand Krishna ketika menyampaikan sekapur sirih pada pembukaan seminar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seminar ini menghadirkan 3 pembicara yakni Direktur Kampus Digital Universitas Esa Unggul Diana Fajarwati, Direktur Alua Consulting Group Arbama Fiwmani, dan Direktur Alua Consulting Group Dian Martin.
Direktur Kampus Digital Universitas Esa Unggul Diana Fajarwati menuturkan perlunya training dan evaluasi atas penggunaan Al. Dengan demikian, kata dia, masyarakat bisa memanfaatkan Al secara etis dan bertanggungjawab sebagai teman diskusi, dan bukan sebagai ‘joki’.
Sementara Direktur Alua Consulting Group Arbama Fiwmani menjelaskan bahwa menerima keberadaan Al (gadger dan Medsos) dengan mengembangkan fungsi Neo Cortex melalui latihan meditasi. Tujuannya agar bisa berpikir jernih dan kreatif serta seimbang fungsi otak kanan dan kiri, dan tidak menjadi korban dominasi Al.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












