Maumere-SuaraSikka.com: Dua orang warga NTT yang berprofesi sebagai debt collector atau mata elang (matel) diketahui tewas mengenaskan, Kamis (11/12). Pelakunya adalah 6 oknum polisi yang bertugas pada Satuan Pelayanan Markas di Mabes Polri.
Terhadap peristiwa yang terjadi di dekat Taman Makam Kalibata itu, anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Melchias Markus Mekeng angkat bicara. Wakil rakyat dari NTT itu mengecam keras tindakan brutal, tidak manusiawi, dan main hakim sendiri yang dilakukan oknum anggota Polri hingga korban meninggal dunia.
“Tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Melchias Mekeng di Maumere, Sabtu (13/12).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menyebut aksi brutal tersebut sebagai sesuatu yang sangat ironi karena dilakukan oleh oknum aparat penegak hukum yang selama ini terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Fakta ini, kata dia, sangat berbahaya karena berpotensi memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat secara luas, terlebih di tengah menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Melchias Mekeng mengatakan sorotan publik terhadap profesi mata elang akhir-akhir ini tidak dapat dan tidak boleh dijadikan legitimasi atas tindakan kekerasan, apalagi jika dilakukan oleh aparat negara. Karena itu, bagi dia, tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan pengeroyokan hingga menghilangkan nyawa manusia, siapa pun korbannya dan apa pun latar belakang profesinya.
Melchias Mekeng mendesak agar peristiwa brutal oknum polisi tersebut harus ditindak secara tegas, terbuka, dan tanpa kompromi. Dia meminta semua elemen untuk mengawal serius proses hukum agar tidak berubah menjadi sandiwara hukum yang mencari celah pembenaran atau pembebasan para pelaku di kemudian hari. Prinsip equality before the law harus ditegakkan secara konsisten tanpa pengecualian.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe











