Di bidang pariwisata, kata Alfonsus Ambrosius, Kabupaten Sikka sesungguhnya dianugerahi sebaran objek wisata yang sangat kaya dan beragam, mulai dari wisata bahari, pesisir, alam, hingga wisata budaya dan religi. Sayangnya, kekayaan ini belum mampu dikelola dengan visi yang utuh dan managemen yang profesional.
Pariwisata yang seharusnya menjadi lokomotif peningkatan PAD justeru berjalan tanpa arah yang jelas, minim promosi, miskin inovasi, dan tidak terintegrasi dalam satu ekosistem ekonomi daerah.
Kondisi ini semakin diperparah dengan terbengkalainya sejumlah aset strategis daerah seperti Sikka Diving Center di Wairterang yang semestinya menjadi ikon wisata bahari Teluk Maumere, kini justeru tampak tidak terurus dan tampak seperti bangunan mati, rumah hantu yang kehilangan fungsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Demikian juga dengan kawasan wisata Tanjung Kaju Wulu, Nusa Kutu dan Wair Nokerua, replika Kota Tua Betlehem di Nele, serta masih banyak lagi, yang secara historis dan visual sangat ikonik bagi Kabupaten Sikka. Namun semua potensi itu belum dikelola secara maksimal sebagai ruang publik bernilai ekonomi dan kebanggaan daerah.
“Aset-aset ini tidak hanya kehilangan nilai ekonomi tetapi juga mencerminkan lemahnya tata kelola dan absennya keberpihakan kebijakan terhadap pengelolaan aset daerah secara produktif,” sentil Alfonsus Ambrosius.
Fraksi PDI Perjuangan menyinggung ironi yang sama terlihat pada sektor kesehatan. Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Sikka telah dilengkapi dengan fasilitas yang relatif memadai. Namun keberadaan fasilitas tersebut hingga kini belum memberikan kontribusi signifikan terhadap PAD.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












