Sepucuk Surat, Satu Nyawa, dan Negara yang Diam dalam Potret Pahit Pendidikan di NTT

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 1,462 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surat yang ditulis tangan korban bunuh diri

Surat yang ditulis tangan korban bunuh diri

TRAGEDI seorang anak Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya pada Kamis 26 Januari 2026 bukan sekedar kabar duka. Bagi kami, orang-orang NTT, ini adalah tamparan keras, sekaligus tuduhan terbuka terhadap negara yang terlalu lama abai.

Surat itu bukan hanya pesan perpisahan, melainkan dokumen kegagalan kolektif, kegagalan sistem pendidikan, kegagalan perlindungan sosial, dan kegagalan negara dalam memenuhi hak paling dasar anak-anaknya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anak itu tidak menulis dengan bahasa kebencian. Ia tidak menuduh. Ia bahkan meminta ibunya untuk tidak menangis. Di situlah letak kepedihannya. Seorang anak, dalam usia yang seharusnya dipenuhi mimpi dan permainan, justeru memikul beban psikologis yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa termasuk negara. Ia pergi dengan kesadaran bahwa ibunya tidak punya uang, bahwa permintaannya untuk buku dan pena adalah beban, dan bahwa kepergiannya mungkin dianggap sebagai jalan keluar.

Pertanyaannya: mengapa seorang anak bisa sampai pada kesimpulan sekejam itu?

Sebagai orang NTT, karni muak jika tragedi ini kembali direduksi menjadi narasi “kemiskinan keluarga” atau “masalah pribadi”. Ini bukan soal satu ibu, satu rumah tangga, atau satu desa. Ini adalah hasil dari kemiskinan struktural yang dibiarkan turun-temurun, di wilayah yang terlalu sering dijadikan objek belas kasihan, bukan subjek pembangunan.

Ayah anak itu meninggal. bahkan sebelum ia lahir. Ibunya menanggung hidup lima anak seorang diri. Ini bukan cerita langka di NTT. Ribuan perempuan di wilayah ini hidup dalam kondisi serupa: bekerja keras tanpa jaminan sosial yang layak, tanpa perlindungan negara yang nyata, tanpa sistem dukungan yang manusiawi. Negara tahu itu. Data kemiskinan NTT selalu muncul di laporan nasional. Tetapi pengetahuan tanpa tindakan hanyalah kebohongan yang rapi.

Berita Terkait

13 Lady Companion Antara Dugaan TPPO dan Realitas Pilihan Kerja di Dunia Hiburan Malam
Obligasi Daerah dan Masa Depan Kemandirian Fiskal NTT
APBD Kabupaten Sikka 2026: Sah Secara Formal, Lemah dalam Keberpihakan pada Kepentingan Rakyat
Mengenang Anand Krishna, Seorang Pelintas Batas
KPA Harusnya Jatuhkan Sanksi Administrasi kepada Tersangka John Bala, dan Tidak Berlindung di Balik Imunitas Advokat
Dari Keresahan yang Sunyi, ke Mana Kita Melangkah Bersama?
KUHP dan KUHAP Baru: Reformasi Hukum atau Kemunduran Demokrasi?
Ketika DAK Gagal Wujudkan Hak Kesehatan: Alarm Konstitusi dari Puskesmas Tuanggeo
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:49 WITA

Golkar Hantam Bupati Sikka Soal Kebijakan Mutasi dan Promosi ASN, Sebut Ada Putra Mahkota

Kamis, 12 Maret 2026 - 23:27 WITA

Garda Solidaritas Minta Tinjau Kembali Izin Pengelolaan Parkir Pasar Alok dan RSUD TC Hillers Maumere

Kamis, 12 Maret 2026 - 22:16 WITA

Demokrat Sebut Pertumbuhan Ekonomi di Sikka Tidak Berkualitas

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:28 WITA

Kontradiktif! Pertumbuhan Ekonomi di Sikka Meningkat, Ketimpangan Ekonomi di Masyarakat Masih Terjadi

Kamis, 12 Maret 2026 - 11:06 WITA

Musrenbang 2027, Ketua DPRD Sikka Ingatkan Setiap Rupiah Harus Berdampak Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:19 WITA

Buka Puasa Bersama, Pimpinan BRI Maumere Ajak Tingkatkan Toleransi Beragama

Senin, 9 Maret 2026 - 21:35 WITA

AHP Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Maumere

Senin, 9 Maret 2026 - 18:28 WITA

Kasus Pembunuhan di Rubit, Kuasa Hukum Keluarga Korban Dorong Penyidik Pakai Pasal Pembunuhan Berencana

Berita Terbaru

Timnas Iran

Nasional

Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Bagaimana Peluang Indonesia?

Jumat, 13 Mar 2026 - 00:07 WITA