Tragedi ini seharusnya menjadi titik balik. Pemerintah tidak cukup hanya berjanji “akan mengevaluasi”. Yang dibutuhkan adalah reformasi nyata: jaminan pendidikan dasar yang benar-benar gratis hingga ke alat tulis, pendampingan psikososial di sekolah-sekolah, perlindungan khusus bagi keluarga rentan, dan kebijakan yang berpihak pada wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal.
Jika tidak, maka tragedi ini akan terulang. Mungkin dengan nama berbeda, di desa berbeda, tetapi dengan luka yang sama. Dan setiap kali itu terjadi, negara tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata “prihatin”.
Sebagai orang NTT, kami berhak marah. Kami berhak menuntut. Karena yang hilang bukan hanya satu nyawa, tetapi harapan kolektif bahwa negara benar-benar hadir untuk yang paling lemah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepucuk surat itu kini menjadi saksi. Saksi bahwa seorang anak telah lebih jujur dari pada banyak pejabat. Ia menulis apa adanya, tanpa retorika, tanpa janji. Dan justeru dari kejujuran itulah negara seharusnya merasa malu.
Jika negara masih punya nurani, tragedi ini tidak boleh dilupakan. Jika negara masih mengaku melindungi anak-anaknya, maka bertindaklah bukan besok, tetapi sekarang. Karena satu anak yang pergi terlalu cepat sudah terlalu banyak. Dan NTT sudah terlalu lama belajar menangis dalam diam.***
Ditulis oleh Ilhamsyah Muhammad Nurdin, Dosen Universitas Muhammadiyah Maumere


Ikuti Kami
Subscribe












