Dari Keresahan yang Sunyi, ke Mana Kita Melangkah Bersama?

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 25 Januari 2026 - 23:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 314 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilhamsyah Muhammad Nurdin

Ilhamsyah Muhammad Nurdin

KERESAHAN ini tidak lahir dari ruang seminar atau laporan resmi. Ia tumbuh pelan dari percakapan kecil, dari ruang ruang kelas yang terasa semakin sunyi, dari tumpukan bacaan yang jarang disentuh, dan dari diskusi yang sering berakhir cepat. Keresahan ini sederhana: ada sesuatu yang sedang berkurang dalam cara kita belajar dan mungkin juga dalam cara kita memahami diri sendiri.

Jika literasi mahasiswa kian menipis, apakah itu semata-mata karena kurangnya kemauan? Ataukah karena kita semua, sadar atau tidak, sedang hidup dalam sistem yang mendorong kecepatan lebih dari kedalaman? Pertanyaan ini penting, karena dari sudut pandang psikologi, kebiasaan berpikir tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari lingkungan yang membentuknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Literasi, dalam makna psikologis, bukan hanya soal membaca teks panjang. Ia adalah kemampuan menahan diri untuk tidak segera menyimpulkan, keberanian bertahan dalam kebingungan, dan kesediaan menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain. Ketika ruang untuk proses ini menyempit, cara berpikir pun ikut menyempit. Kita menjadi terbiasa bergerak cepat, tetapi jarang benar benar berhenti.

Kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Kita hidup di budaya yang mengagungkan efisiensi dan hasil instan. Dalam budaya seperti ini, membaca sering dianggap lambat, berdiskusi dianggap bertele-tele, dan merenung dianggap tidak produktif. Perlahan, tanpa perlu ada yang melarang, literasi tersingkir dengan sendirinya. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak dianggap mendesak.

Dari sisi psikologi emosi, kebiasaan literasi yang minim membentuk relasi yang rapuh dengan ketidakpastian. Ketika seseorang jarang bergumul dengan teks dan gagasan yang kompleks, ketidakjelasan terasa mengancam. Maka, respons yang muncul sering kali berupa penghindaran atau pencarian jawaban cepat. Dalam jangka panjang, ini membentuk kecenderungan reaktif: cepat merespons, tetapi minim refleksi.

Dalam fase perkembangan dewasa awal, literasi berperan penting dalam pembentukan identitas dan nilai hidup. Melalui bacaan dan dialog, seseorang belajar mengenali posisinya di tengah dunia yang beragam. Ketika proses ini terhambat, nilai sering diambil secara mentah dari luar. Identitas pun dibangun di atas apa yang populer, bukan apa yang dipahami. Ini bukan kesalahan personal, melainkan konsekuensi dari ruang belajar yang miskin refleksi.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 07:59 WITA

Perpamsi Salurkan Rp 214 Juta untuk 5 Perusahaan Air Minum Terdampak Gempa Flores

Senin, 21 September 2026 - 10:21 WITA

SMKS Yohanes XXIII Maumere Gelar Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan Tingkat SMP di Sikka, Total Hadiah Rp 11,8 Juta

Kamis, 17 September 2026 - 19:48 WITA

Abadikan Tokoh Pendidikan, Aula SMKS Yohanes XXIII Maumere Diberi Nama Aula Jeremias Pareira

Senin, 14 September 2026 - 18:22 WITA

PMKRI Maumere Pertanyakan Sisa Logistik Bencana dan Bantuan Presiden Rp 20 Miliar

Jumat, 11 September 2026 - 22:24 WITA

Kemelut di SMKN 1 Maumere, Gaji 52 Guru Pegawai Turun, Kepsek: Bukan Pemotongan Tapi Penyesuaian

Kamis, 10 September 2026 - 22:25 WITA

Dapat Program Revitalisasi Rp 909,9 Juta, 5 Ruang Kelas di SMPK Yapenthom 1 Maumere Mulai Dibongkar

Sabtu, 5 September 2026 - 09:55 WITA

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya

Jumat, 4 September 2026 - 08:03 WITA

Gempa Bumi Tektonik 4,6 Magnitudo Dirasakan di Nagekeo, Tidak Berpotensi Tzunami

Berita Terbaru

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito tengah memberikan keterangan pers di Cimahi, Rabu (16/9)

Nasional

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Kamis, 17 Sep 2026 - 22:07 WITA