


KERESAHAN ini tidak lahir dari ruang seminar atau laporan resmi. Ia tumbuh pelan dari percakapan kecil, dari ruang ruang kelas yang terasa semakin sunyi, dari tumpukan bacaan yang jarang disentuh, dan dari diskusi yang sering berakhir cepat. Keresahan ini sederhana: ada sesuatu yang sedang berkurang dalam cara kita belajar dan mungkin juga dalam cara kita memahami diri sendiri.
Jika literasi mahasiswa kian menipis, apakah itu semata-mata karena kurangnya kemauan? Ataukah karena kita semua, sadar atau tidak, sedang hidup dalam sistem yang mendorong kecepatan lebih dari kedalaman? Pertanyaan ini penting, karena dari sudut pandang psikologi, kebiasaan berpikir tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari lingkungan yang membentuknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Literasi, dalam makna psikologis, bukan hanya soal membaca teks panjang. Ia adalah kemampuan menahan diri untuk tidak segera menyimpulkan, keberanian bertahan dalam kebingungan, dan kesediaan menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain. Ketika ruang untuk proses ini menyempit, cara berpikir pun ikut menyempit. Kita menjadi terbiasa bergerak cepat, tetapi jarang benar benar berhenti.
Kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Kita hidup di budaya yang mengagungkan efisiensi dan hasil instan. Dalam budaya seperti ini, membaca sering dianggap lambat, berdiskusi dianggap bertele-tele, dan merenung dianggap tidak produktif. Perlahan, tanpa perlu ada yang melarang, literasi tersingkir dengan sendirinya. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak dianggap mendesak.
Dari sisi psikologi emosi, kebiasaan literasi yang minim membentuk relasi yang rapuh dengan ketidakpastian. Ketika seseorang jarang bergumul dengan teks dan gagasan yang kompleks, ketidakjelasan terasa mengancam. Maka, respons yang muncul sering kali berupa penghindaran atau pencarian jawaban cepat. Dalam jangka panjang, ini membentuk kecenderungan reaktif: cepat merespons, tetapi minim refleksi.
Dalam fase perkembangan dewasa awal, literasi berperan penting dalam pembentukan identitas dan nilai hidup. Melalui bacaan dan dialog, seseorang belajar mengenali posisinya di tengah dunia yang beragam. Ketika proses ini terhambat, nilai sering diambil secara mentah dari luar. Identitas pun dibangun di atas apa yang populer, bukan apa yang dipahami. Ini bukan kesalahan personal, melainkan konsekuensi dari ruang belajar yang miskin refleksi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












