


Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 6 pemuda yang merupakan kader Ikatan Muda Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sikka berinisiasi menggelar kegiatan bakar lilin dan doa bersama di Kantor Dinas PKO Sikka, Rabu (4/2) malam. Aksi spontanitas ini untuk mengenang YBR, seorang pelajar SD di Kabupaten Ngada Propinsi NTT yang meninggal karena bunuh diri.
Aksi ini digelar di tengah keheningan malam. Dengan lilin menyala di hadapan mereka, 6 kader IMM Sikka itu memilih hadir tidak sebagai kerumunan, melainkan sebagai sikap. Sikap untuk tidak diam. Sikap untuk tidak tunduk. Sikap untuk tidak berlindung di balik rasa aman dan nyaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi mereka, kepergian seorang anak di usia yang sangat belia, 10 tahun, mengguncang nurani publik, sekaligus memantik pertanyaan-pertanyaan serius tentang kepekaan sistem pendidikan dan lingkungan sosial terhadap beban yang dipikul anak anak.
Enam kader IMM Sikka itu datang dengan cara damai dan tertib. Tidak ada teriakan, tidak ada spanduk besar, tidak pula pengeras suara. Hanya lilin, doa, dan keheningan yang sengaja dibiarkan berbicara. Bagi mereka, keheningan itu justeru menjadi bentuk kritik paling jujur yakni kritik terhadap sistem yang kerap abai, dan terhadap budaya diam yang terlalu sering dipilih demi rasa aman.
Dalam pernyataannya, para kader IMM tersebut menegaskan bahwa aksi ini merupakan pilihan sadar untuk berdiri di sisi keberpihakan kemanusiaan, meskipun harus berbeda arah dengan sebagian kader dan pimpinan yang memilih jalan aman dan nyaman. Mereka memilih sikap “menolak tunduk”, bukan sebagai bentuk pembangkangan, melainkan sebagai kesetiaan pada nilai dasar gerakan: keberanian, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral.
“Kami hanya 6 orang malam ini. Tapi kami percaya, sikap tidak diukur dari jumlah. Ada saatnya diam menjadi bentuk pengkhianatan terhadap nurani. Kami memilih tidak diam,” ungkap salah satu kader IMM Sikka di lokasi aksi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












