Ketujuh, mereka menegaskan perlunya transparansi dan akuntabilitas publik, dengan penyampaian terbuka kepada masyarakat mengenai langkah kebijakan dan tindak lanjut yang diambil.
Penempatan tuntutan di Kantor Dinas PKO Sikka ditegaskan bukan sebagai ancaman, melainkan pengingat moral dan panggilan nurani. Keenam kader IMM Sikka menyatakan bahwa apabila tuntutan belum memperoleh perhatian dan tindak lanjut sebagaimana mestinya, mereka akan tetap mengambil peran sebagai pengawas publik melalui cara-cara damai, rasional, dan konstitusional.
Aksi ini sekaligus menjadi penegasan garis sikap politik gerakan enam kader IMM tersebut. Di tengah situasi ketika sebagian pihak memilih aman, menghindari risiko, dan menunggu situasi reda, mereka justru memilih hadir di ruang publik dengan sikap yang jelas. Bagi mereka, keberpihakan tidak boleh ditunda, dan empati tidak boleh dinegosiasikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sadar, sikap ini mungkin tidak populer. Tapi gerakan mahasiswa dan kader seharusnya tidak hidup dari popularitas, melainkan dari keberanian menyuarakan kebenaran,” ujar salah satu kader lainnya.
Doa bersama yang digelar di pengujung aksi menjadi penutup yang hening. Keenam kader berdiri dengan kepala tertunduk, mendoakan almarhum YBR serta keluarga yang ditinggalkan. Mereka juga menyelipkan doa agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi, dan agar seluruh pemangku kepentingan diberi keberanian untuk berbenah.
Bagi 6 kader IMM Sikka, aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari komitmen panjang untuk terus mengawal isu pendidikan dan perlindungan anak dengan cara-cara damai, kritis, dan berlandaskan nilai kemanusiaan. Mereka menegaskan akan tetap mengambil peran sebagai pengingat moral, meskipun harus berjalan di jalur yang tidak selalu nyaman.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












