Kepergian YBR menyisakan duka mendalam, terlebih setelah diketahui bahwa almarhum meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya berisi ungkapan perasaan, permintaan maaf, dan pesan agar sang ibu tidak bersedih. Bagi keenam kader IMM itu, pesan tersebut bukan sekadar catatan pribadi, melainkan cermin rapuhnya ruang aman bagi anak-anak untuk menyampaikan beban batin mereka.
“Membaca pesan terakhir seorang anak kepada ibunya seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan bertanya, di mana kita ketika anak-anak merasa sendiri? Di mana negara, sekolah, dan lingkungan ketika mereka tidak tahu harus mengadu ke siapa?” kata salah satu peserta aksi.

Aksi bakar lilin ini tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya, keenam kader IMM Sikka menempatkan peristiwa tersebut sebagai peristiwa kemanusiaan yang harus direspons dengan kejujuran dan keberanian kolektif. Mereka menilai bahwa sistem pendidikan tidak boleh hanya sibuk mengurus administrasi, capaian, dan target, sementara sisi psikososial peserta didik luput dari perhatian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks itu, kehadiran mereka di depan Kantor Dinas Pendidikan Sikka memiliki makna simbolik. Bukan sebagai bentuk konfrontasi, melainkan sebagai pengingat moral bahwa lembaga pendidikan memikul tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan berpihak pada kehidupan.
“Pendidikan bukan sekadar soal kurikulum dan angka. Ia adalah soal manusia. Soal anak-anak yang harus merasa dilihat, didengar, dan dilindungi,” tegas pernyataan sikap mereka.
Selain menyalakan lilin dan memanjatkan doa, 6 kader IMM Sikka meninggalkan dan menyampaikan lembar tuntutan di kantor Dinas PKO Sikka. Tindakan ini dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengingat publik agar duka tidak berhenti sebagai simpati sesaat, tetapi ditindaklanjuti dengan langkah nyata, sehingga anak-anak lain tidak kembali merasakan sunyi yang sama.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












