


Maumere-SuaraSikka.com: Seorang pelajar Kelas IV di Kabupaten Ngada Propinsi NTT bunuh diri. Peristiwa ini menjadi viral seantero Indonesia. Baragam pendapat berseliweran di ruang publik, tidak jarang terkesan muncul pernyataan bersifat politisasi kasus.
Wakil Ketua Bidang Pendidikan GMNI Sikka Heribertus Mesi menyebut ketika YBR bocah 10 tahun harus menyerah pada keadaan, maka semua pihak mulai dari orang tua, tokoh adat, pemuka agama, hingga para pemangku kebijakan wajib berdiri di depan cermin besar sambil mempertanyakan lubang besar yang membuat sistem pendidikan di negeri ini mengalami kebocoran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu bagi GMNI Sikka peristiwa tersebut adalah luka kemanusiaan yang seharusnya dihadapi dengan empati, tanggung jawab moral, dan keberpihakan nyata pada keselamatan anak-anak. GMNI Sikka menegaskan kasus YBR tidak boleh sekadar jadi komoditas politis.
“Tragedi ini bukan panggung untuk saling tuding, melainkan alarm keras bahwa ada yang gagal dalam cara kita menjaga masa depan,” seru Heribertus Mesi.
GMNI Sikka menilai kehadiran sejumlah elite pemerintahan seperti Gubernur, Bupati, dan DPR dalam kasus ini justeru berpotensi menggeser ruang kedukaan menjadi ruang politisasi. Bagi GMNI Sikka duka rakyat tidak boleh dijadikan panggung pencitraan, apalagi alat legitimasi kekuasaan.
“Ruang duka merupakan ruang sunyi, ruang hormat, dan ruang kejujuran.
Bukan ruang kamera, narasi seremonial, atau pernyataan normatif tanpa tindakan konkrit. Ini skenario dan kebohongan para elite pemerintahan, buruk wajah pemerintahan hari ini,” seru Heribertus Mesi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












