Heribertus Mesi mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk melihat realitas guru di sekolah yang dibebani tugas mahaberat untuk memantau psikis anak. Sementara di sisi lain para tenaga pendidik itu juga tengah berjuang dalam keterbatasan sistemik.
Bagi GMNI Sikka, kehadiran tenaga psikolog atau pendamping profesional di lingkup sekolah merupakan seauatu yang sangat penting, bukan sekadar pelengkap administrasi. GMNI Sikka tidak sependapat jika dalam sistem pendidikan yang rapuh, justeru kesalahan akar masalah dari kasus ini dilimpahkan kepada tenaga pendidik secara personal.
Heribertus Mesi menyinggung latar belakang YBR yang sejak dalam kandungan, dilahirkan dan kemudian sekolah, tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bagi GMNI Sikka, kematian YBR bukan sekedar kondisi faktor ekonomi, tapi terlebih faktor sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
GMNI Sikka menganalisis informasi faktor lain yang berkontribusi seperti buli, tekanan dari guru, teman-teman sekolah, serta oknum masyarakat yang tidak mendukung di Desa Nenowea. Karena itu GMNI Sikka menyarankan penegak hukum harus turun melakukan investigasi secara konferensif di lingkungan sekolah, desa, dan pemerintah daerah setempat.
“Bila menemukan fakta adanya pembulian terjadi pada almahrum maka perlu ada tindakan tegas dari penegak hukum,” tegas Heribertus Mesi.
Untuk itu, terkait kasus kematian YBR, GMNI Sikka menolak segala bentuk politisasi atas penderitaan rakyat, terlebih pada kematian seorang anak. Menurut GMNI Sikka kehadiran pejabat publik harus diukur dari tanggung jawab dan solusi, bukan sekadar simbol empati.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












