Bahkan, kata dia, Bung Karno dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB pada tanggal 30 September 1960 di New York, Amerika Serikat, dengan judul “To Build The World a New (Membangun Dunia Kembali), memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi alternatif dunia di tengah ketegangan perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
“Hemat saya, Bung Karno mau menegaskan bahwa Pancasila merupakan sintesa atas ketegangan ideologi antara blok barat dan blok timur serta berbagai ideologi lainnya. Sintesa itu dibangun dari kesadaran akan nilai-nilai kehidupan masyarakat dunia yang termaktub dalam sila-sila dalam Pancasila. Namun, untuk membangun bangsa-bangsa dunia bukan hanya memiliki dasar yang kuat sebab pelaksanaannya butuh perjuangan,” ujar Stef Sumandi.
Menurut Stef Sumandi, setiap warga negara Indonesia dituntut untuk memperjuangkan Pancasila demi kesejahteraan bersama. Dengan demikian, kata dia, implementasi Pancasila bukan hanya tanggung jawab para pemegang kekuasaan, tetapi warga negara juga mesti memiliki kebajikan untuk membangun diri dan negerinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia lalu mengutip pandangan Filsuf Politik Will Kymlicka yang menyebut bahwa sekolah menjadi tempat tumbuh kebajikan sipil yang ideal. Berangkat dari.pandangan ini, kata dia, maka untuk memperjuangkan impelementasi Pancasila, perlu pendidikan yang berkualitas untuk membentuk karakter bangsa.
“Maka, saya pikir pemerintah perlu melakukannya dengan menyediakan anggaran yang lebih banyak untuk peningkatan kualitas pendidikan baik sekolah swasta maupun sekolah negeri serta lembaga pendidikan lainnya,” pesan Stef Sumandi.
Dalam konteks ini, Stef Sumandi berharap kultur politik di Indonesia tidak hanya memperjuangkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pertumbuhan kualitas anak-anak bangsa. Bagi dia, jika anak-anak bangsa berkualitas maka ekonomi negeri ini akan segera bangkit, sebab warga negara yang berkualitas dengan sendirinya tidak akan bergantung pada negara, justeru sebaliknya membantu memajukan negaranya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












