Sebut Presiden Suruh Tinju Ratna, BKH Bantah Serang Presiden
Dibaca 15 kali
Politisi Partai Demokrat Benny Kabur Harman
Jakarta-SuaraSikka.com: Politisi Partai Demokrat Benny Kabur Harman (BKH) seolah-olah sedang terperangkap dalam sandiwara Ratna Sarumpaet. Cuitan BKH jelas-jelas menyebut Presiden Joko Widodo memelihara preman dan diduga kuat yang meninju Ratna adalah preman-preman suruhan presiden. Namun BKH justeru membantah telah menyerang presiden.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI itu merespons kasus penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet. Dia menulis ada tiga kemungkinan diamnya presiden terhadap kasus ini. Pertama, presiden sibuk dan ini perkara kecil. Dua, presiden memelihara preman dan diuga kuat yang meninju Ratna adalah preman-preman suruhan presiden. Tiga, cara ini sudah sesuai revolusi mental. Ratna Sarumpaet sendiri akhirnya mengakui tidak pernah mengalami penganiayaan.
Cuitan BKH lantas mendapat reaksi keras dari sejumlah orang. Petrus Bala Pattyona, salah seorang pengacara, menulis nota politik dan meminta BKH menjelaskan tiga alasan cuitannya. Bala Pattyona menilai setelah dua kali gagal jadi Gubernur NTT, kajian dan analisa BKH kurang cerdas bajkan terkesan frustasi karena apapun yang dilakukan pemerintah di mata BKH selalu salah dan tidak ada nilai positip.
“Tolong jelaskan semua pertanyaan saya tentang ketiga hal yang Bapak twitt agar saya tidak berkesimpulan analisa Bapak ngawur, prematur, tanpa data, tak bermutu, penuh kebencian, hoax, dan menimbulkan perpecahan, permusuhan, keresahan sosial di masyarakat,” tulis Bala Pattyona.
Berita Terkait:
Sekretaris Partai Nasdem Jhony G. Plate mempermasalahkan cuitan BKH . Dia menyebut cuitan BKH sebagai tuduhan serius kepada seorang presiden.
“Menyerang presiden langsung. Ini analisa presiden ada preman. Itu tuduhan serius ke presiden. Apalagi ini semakin terlihat ada rekayasa politik dengan menciptakan gaya ‘viktimisasi’. Koalisi pemerintah merasa dirugikan fitnah keji yang dilakukan saat bangsa sedang berduka,” ungkap Jhony Plate.
Dari berbagai informasi yang dihimpun media ini, BKH merasa tidak sedang menyerang presiden. Cuitan itu untuk membalas tweet dari rekan satu partainya Rachland Nashidik, yang mempertanyakan alasan Presiden Jokowi diam saja terhadap kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet. Ketua DPP Partai Demokrat itu memberikan analisis mengapa Jokowi diam.
“Saya tidak menyerang Pak Jokowi. Saya tidak menuduh. Saya kan cuma mengatakan itu mungkin, semua mungkin to. Ya bisa saja mungkin ada preman, bisa saja karena ada kesal kan, manusiawi,” ujar Benny, Kamis (4/10).
Benny mengaku awalnya percaya pada kisah penganiayaan Ratna. Salah satu hal yang membuat dia percaya sehingga mencuitkan postingan soal Jokowi adalah kisah itu juga disampaikan Prabowo Subianto.
“Salah satu capres menyampaikan itu, masa tidak percaya? Maka saya minta presiden menjelaskan, jangan sampai presiden diam seperti kasus Novel Baswedan. Nanti presiden bisa dituduh punya preman. Intinya, presiden harus menjelaskan, jangan diam supaya jangan ada tuduhan-tuduhan yang tidak bagus ke presiden. Semangat tulisan itu presiden tidak boleh diam karena kalau diam akan muncul analis-analis seperti yang saya tulis,” imbuh mantan Cagub NTT itu.
Benny pun mengaku tak takut apabila dilaporkan karena cuitannya itu. Ia tak merasa ada yang salah terhadap pernyataannya.
Jhony Plate meledek posting-an BKH karena Ratna Sarumpaet diketahui berbohong soal penganiayaannya. Jhony Plate menilai masyarakat kini tertawa atas sejumlah postingan semacam itu.
“Postingan itu mengecam diri sendiri. Postingan yang mentertawakan diri sendiri. Pernyataan Ratna (yang mengaku berbohong) yang mengecam postingan itu,” sebutnya.*** (eny)