




Maumere-SuaraSikka.com: Kesulitan mencari kerja di Kabupaten Sikka, ternyata membawa berkah bagi 3 alumnus Akademi Keperawatan Santa Elisabeth Lela Kabupaten Sikka.
Mereka akhirnya malah boleh berkareir di negeri Jepang sesuai bidang ilmu yang mereka pelajari yakni sebagai tenaga kesehatan. Ketiganya telah melakukan kontrak dengan rumah sakit tempat mereka akan bekerja selama 5 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesempatan emas ini diperoleh Monika Seles, Ludgerus Afri Geong, dan Herlina Ferdinanda, setelah mereka bertiga difasilitasi oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Musubu yang berkedudukan di Bali.

Direktur Operasional dan Pembiayaan LPK Musubu Yofani Maria Francis Yuki memastikan 3 alumni Akper Santa Elisabeth Lela ini telah mengantongi sertifikat kesetaraan perawat Jepang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang.
“Kemarin sudah terbit resmi kartu pencari kerja dan visa kerja. Nanti akhir Mei ini berangkat ke Kobe Jepang, sebagai tenaga kerja terampil atau disebut Specified Skilled Worker,” terang Yofani Maria Francis Yuki dalam konperensi pers di Kantor Disnakertrans Kabupaten Sikka, Kamis (13/4).
Dia menambahkan sebagai pekerja terampil, tiga alumni Akper Lela ini akan mendapatkan hak-hak setara dengan pekerja lokal Jepang, seperti gaji, insentif lembur, asuransi kerja, asuransi kesehatan, serta pensiun.
“Semua item hak dan kewajiban termuat dalam kontrak kerja,” jelas politisi Partai NasDem itu.
Bakal Calon Anggota DPRD NTT Dapil 5 ini menjelaskan proses dan mekanisme singkat untuk mendapatkan peluang kerja di Jepang.
Para calon tenaga kesehatan ini awalnya berkoordinasi dan komunikasi dengan LPK Musubu sebagai lembaga yang menjembatani para pencari kerja dengan Pemerintah Jepang.
Setelah itu pemberi kerja akan melakukan interviu. Jika memenuhi syarat, mereka terlebih dahulu dibenum dengan kursus Bahasa Jepang serta pelatihan keahlian dan sesuai bidang ilmu.
“Kami ingin mereka bisa berkarier karena punya skill. Dan LPK Musubu persiapkan itu,” ujar wanita bersuamikan orang Jepang ini.
Perempuan yang biasa disapa Vonny Francis ini menyebut 2 kendala utama yang sering dihadapi yakni izin orang tua dan persoalan biaya.
Untuk izin orang tua, biasanya LPK Musubu berupaya memberikan keyakinan, terutama agar orang tua tidak kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti human traficking.
“Orang Jepang benar-benar memberikan jaminan keamanan pekerja, termasuk memberikan penghargaan,” ujar dia.
Sementara soal kendala biaya bagi para calon pekerja, LPK Musubu menggandeng KSP Kopdit Pintu Air. Koperasi kredit ini memberikan pinjaman tanpa bunga, dan pinjaman baru akan dibayar secara cicil setelah mereka mulai bekerja.
Hingga saat ini LPK Musubu sudah mengirimkan 100 tenaga kesehatan ke Jepang. Lembaga ini baru fokus pada bidang keperawatan dan engineering. Ke depan, ujar Vonny Francis, LPK Musubu akan melirik sektor pariwisata.
Kepala Dinas Nakertrans Sikka Valerianus Samador memberikan apresiasi kepada LPK Musubu yang terlibat dalam pengiriman tenaga kerja secara mandiri.
Dia mengatakan kehadiran dan eksistensi LPK Musubu sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah setempat yang terus berupaya menekan angka pengangguran.
Mantan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Sikka ini berharap para pencari kerja khususnya pada bidang kesehatan bisa memilih peluang yang difasilitasi LPK Musubu untuk mendapatkan kesempatan kerja, sehingga angka pengangguran bisa ditekan.
Pada momen konperensi pers, LPK Musubu menghadirkan juga Monika Seles dan Ludgerus Afri Geong. Sementara Herlina Ferdinanda berhalangan hadir.
Dua calon pekerja tenaga kesehatan di Jepang ini berkesempatan bicara bahasa Jepang, mengallikasikan kemampuan mereka setelah kursus selama kurang lebih 1 tahun.*** (eny)

















