Maumere-SuaraSikka.com: Publik di Kabupaten Sikka gusar dengan gaya premanisme oknum PNS calo proyek yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Petrus Jelalu, seorang warga masyarakat, menyebut perilaku tersebut sangat memalukan daerah ini.
Ditemui di Kantor Bupati Sikka, Rabu (19/9), mantan anggota DPRD Sikka itu mengaku prihatin, terharu, kesal dan marah terhadap PNS calo proyek yang sewenang-wenang menganggap diri paling lur biasa di daerah ini.
“Sebagai pribadi yang sedikit tahu aturan, menurut saya ini suatu indikasi yang memalukan daerah. Karena itu saya harapkan teman-teman jurnalis supaya mengikuti kasus ini sampai tuntas,” ujar dia.
Dari pandangannya terhadap kasus caci-maki, ancaman, dan intimidasi serta intervensi terhadap pelaksanaan kegiatan barang dan jasa, dia berharap persoalan ini adalah kasus tunggal antara PNS calo proyek dengan Pokja 7.
Dia tidak bisa membayangkan jika ternyata kasus ini sifatnya jamak, yang justeru bisa menarik banyak orang masuk ke dalam kasus ini. Kalau itu terjadi, katanya, bisa menjadi preseden buruk bagi karir bupati yang baru berlangsung beberapa bulan.
“Saya harapkan kasus ini tunggal, bukan jamak. Dalam arti, jangan sampai cerita gunung es itu terjadi. Maka kalau terjadi, saya rasa itu awal karir bupati baru sangat buruk. Karena itu kita masyarakat coba bahu-membahu supaya daerah ini tetap berwibawa, berkualitas dalam penampilan, terutama perubahan-perubahan yang siginifikan yang bisa dirasakan rakyat banyak,” ingat dia.
Sebagaimana diberitakan, PNS calo proyek diketahui mencaci-maki, mengancam dan mengintimidasi Berto Tjeme, Ketua Pokja 7 yang memroses pelelangan Paket Jasa Konsultasi Pengawasan Pekerjaan Instalasi Gawat Darurat RSUD TC Hillers Maumere senilai Rp 1.745.295.574. Pokja 7 memenangkan PT Sangkuriang yang berkedudukan di Bandung Jawa Barat.
Ternyata keputusan Pokja 7 mendapat reaksi dari PNS calo proyek. Dia lalu menelepon Berto Tjeme dan secara kasar membabibuta, kemudian mencaci-maki, mengancam serta mengintimidasi. Percakapan antara keduanya ternyata terekam, dan kemudian beredar luas di media sosial.
Gaya premanisme itu dipicu lantaran PT Andalan Mitra Wahana yang dijagokan PNS calo proyek ini kalah lelang. Jauh sebelum itu, ketika proses lelang ini sedang berlangsung, PNS calo proyek ini sudah beberapa kali menghubungi Berto Tjeme untuk mengajak kerja sama memenangkan PT Andalan Mitra Wahana.*** (eny)