Robby Idong dan Rabies, Sebuah Tantangan Tersendiri

0
469
Robby Idong dan Rabies, Sebuah Tantangan Tersendiri
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo
Maumere-SuaraSikka.com: Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo atau Robby Idong akan dilantik pada Kamis (21/9) mendatang. Mantan Camat Nele ini dilantik ketika Kabupaten Sikka sedang rawan dihantam rabies. Sudah pasti, dia akan mendapat tantangan tersendiri untuk mengeliminir penyakit yang mematikan ini.
Sampai dengan Agustus 2018, tercatat sudah terjadi 730 kali kasus gigitan anjing terhadap manusia. Itu pun yang dilaporkan dan diketahui oleh pihak yang berwenang. Karena banyak juga terjadi kasus gigitan oleh hewan penular rabies, yang tidak dilaporkan.
Dari jumlah kasus gigitan, Dinas Pertanian telah mengirim sebanyak 66 sampel otak anjing untuk diperiksa secara laboratorium. Dan hasilnya sangat mengejutkan yakni 31 spesimen yang positip rabies. Jumlah spesimen positip rabies ini mengalami kenaikan drastis dibanding tahun lalu yang hanya mencapai angka 11.
Ada begitu banyak faktor yang mendukung makin rentannya masyarakat berhadapan dengan rabies. Antara lain rendahnya kesadaran masyarakat pemilik anjing yang rela anjingnya diberi vaksinasi. Ini problem penting yang harus menjadi catatan khusus bagi Robby Idong. Sebagai Bupati Sikka dia harus mampu menggerakkan kesadaran masyarakat.
Kecamatan Nele pernah didaulat sebagai kecamatan terdepan dalam upaya pemberantasan rabies. Dan upaya ini berhasil dilakukan melalui mimbar-mimbar gereja, berkat kerja keras Pastor Paroki Nele Romo Wilfrid Valiance. Namun, pasca sang imam melanjutkan studi di Jakarta, gerakan tersebut mulai mengendur, dan penyakit rabies kembali mengintai masyarakat.

Berita Terkait:


Tantangan lain yakni ketersediaan vaksin. Hal ini terkait dengan masalah anggaran. Untuk tahun 2018 misalnya, tidak ada satu sen pun anggaran yang terserap pada APBD Sikka. Pengadaan vaksin justeru dibebankan pada pemerintah pusat. Robby Idong harus memiliki kemampuan anggaran dan komunikasi politik yang baik, sehingga setiap tahun menggelontorkan anggaran pemberantasan rabies.
APBN mengalokasikan vaksin untuk Kabupaten Sikka sebanyak 33.000 dosis. Dari jumlah itu, Dinas Pertanian baru menerima 21.000 dosis, yang mana sudah dimanfaatkan sebanyak 12.000 dosis lebih. Sedangkan 12.000 dosis yang tersisa, sampai dengan Agustus masih tertahan di Dinas Pertanian Provinsi NTT.
Sementara itu populasi anjing juga menjadi pendulang makin tingginya kasus gigitan anjing. Data dari Dinas Pertanian, populasi anjing di Kabupaten Sikka berjumlah lebih dari 60.000 ekor. Dinas ini sudah melakukan vaksinasi kepada lebih dari 12.000 ekor anjing. Sementara ini Dinas Pertanian terus giat melakukan sosialisasi agar anjing yang belum vaksin segera dilakukan vaksinasi.
Yang juga tidak kalah menarik yakni jumlah petugas kesehatan hewan (PKH) yang tidak sebanding dengan populasi anjing. PKH di Kabupaten Sikka hanya berjumlah 41 orang, didistribusikan 1-2 orang pada setiap kecamatan. Secara ideal jumlah PKH paling kurang 5 orang untuk setiap kecamatan. Ada juga vaksinator sebanyak 60 orang. Mereka ini adalah tenaga khusus yang sudah dilatih. Sayangnya, perlakuan anggaran kepada mereka juga masih dengan setengah hati.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini