Nasib Miris Ratusan Pelajar, 5 Bulan KBM di Bawah Pohon
Dibaca 36 kali
Suasana kegiatan belajar mengajar di bawah pohon pada Sekolah Pendidikan Non Formal SKB Kabupaten Sikka di Jalan Mawar Kelurahan Madawat Kecamatan Alok
Maumere-SuaraSikka.com: Rehabilitasi ruang kelas pada Sekolah Pendidikan Non Formal (SPNF) SKB Kabupaten Sikka di Jalan Mawar Kelurahan Madawat Kecamatan Alok berimplikasi kepada nasib miris para pelajar. Mereka terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah pohon. Diperkirakan kondisi ini akan berlangsung selama 5 bulan, hingga Januari-Februari 2019.
Pelaksana Tugas SPNF SKB Sikka Hortensia Dou menjelaskan terdapat 105 pelajar setara SMP dan SMA yang menimba ilmu pengetahun di SPNF SKB. Para pelajar itu terdiri dari 63 orang setara SMP atau Paket B, dan 42 orang setara SMA atau Paket C.
Mereka terbagi dalam enam rombongan belajar, yakni Kelas VII berjumlah 37 orang, Kelas VIII berjumlah 13 orang, Kelas IX berjumlah 13 orang, Kelas X berjumlah 14 orang, Kelas XI berjumlah 17 orang dan Kelas XII berjumlah 11 orang.
Pemerintah pusat menurunkan dana alokasi khusus (DAK) Tahun 2018 sebesar Rp 1,2 miliar untuk rehabilitasi 7 ruangan kelas, pembangunan baru 3 ruangan kelas, dan rehabilitasi aula serta kantor. Rehabilitasi dan pembangunan baru sedang dikerjakan secara swadaya. Dengan demikian praktis, para pelajar di SPNF SKB terpaksa belajar di bawah pohon, di halaman tengah sekolah tersebut.
Berita Terkait:
“Tidak ada lagi ruangan kosong, jadi anak-anak terpaksa belajar di bawah pohon. Mungkin kondisi ini bisa berlangsung sampai Januari-Februari tahun depan,” ujar Hortensia Dou yang ditemui Senin (11/11) lalu.
Hortensia Dou menambahkan awalnya enam rombongan belajar melaksanakan KBM di bawah pohon. Setelah itu dua rombongan kelas kembali KBM pada dua ruangan kelas yang sudah dilakukan rehabilitasi ringan. Sementara ini empat rombongan belajar masih KBM di bawah pohon.
Sebagian besar pelajar yang menimba ilmu di sekolah ini, rata-rata berasal dari orang tua yang secara ekonomi tergolong tidak mampu. Karena kondisi ekonomi yang demikian, para pelajar hanya membayar Rp 300 ribu untuk setiap tahun yang diistilahkan sebagai uang fasilitas. Dari uang tersebut sekolah membelanjakan kursi dan meja termasuk perbaikan kursi meja yang sudah rusak.
Ada 12 guru yang mengajar pada sekolah ini, terdiri dari 4 guru pegawai negeri sipil (PNS), dan 8 guru tutor. Guru-guru tutor mendapat insentif dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Sikka, selaku instansi yang membawahi SPNF SKB. Tidak diketahui berapa besar insentif yang diterima guru tutor setiap bulannya.*** (eny)