Dipaksa Pindah ke Pasar Wairkoja, Pengusaha Hasil Bumi Tolak Kebijakan Dadakan

0
27
Dipaksa Pindah ke Pasar Wairkoja, Pengusaha Hasil Bumi Tolak Kebijakan Dadakan
Suasana transaksi jual beli hasil bumi di Toko Fajar, Kamis (18/6)

Maumere-SuaraSikka.com: Pengusaha hasil bumi di Desa Namangkewa Kecamatan Kewapante Kabupaten Sikka dipaksa pindah ke Pasar Wairkoja. Mereka pun menolak karena kebijakan pemerintah daerah setempat dianggap dadakan dan tidak punya alasan yang jelas.

Dua pengusaha hasil bumi yang berada di wilayah itu, tetap melaksanakan aktifitas pembelian hasil bumi dari tempat mereka sebagaimana biasanya.

Hendrik Lomi, pemilik Toko Fajar Timur beralasan pihaknya tidak berkeberatan jika kebijakan tersebut untuk kepentingan banyak orang. Namun dia keberatan karena kebijakan tersebut terkesan mendadak, pihaknya dipaksakan, dan dijadikan kambing hitam biang kemacetan pada Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka.

Dia mengaku Pemkab Sikka mengundang pengusaha hasil bumi untuk membicarakan relokasi ke Pasar Wairkoja. Hanya saja, katanya, dia melihat ada kejanggalan di balik kebijakan tersebut.

“Hari Selasa (16/6) kami diundang pertemuan dengan Sekda Sikka. Kami terima undangan jam 09.00 Wita, pertemuannya jam 10.00 Wita. Yang diundang sekitar 8-9 pengusaha, yang hadir hanya 2 orang saja. Ini kan aneh,” ungkap dia.

Dari pertemuan yang terjadi, katanya, terkesan pemerintah memaksakan pengusaha hasil bumi pindah ke Pasar Wairkoja. Dan eksekusi kebijakan tersebut mulai berlaku sejak Kamis (18/6).

Hendrik Lomi meyakini sekali kebijakan dadakan itu tanpa ada kajian, analisa, dan perhitungan-perhitungan yang terukur. Dan ini yang membuat dia menolak pindah dan tetap aktifitas seperti biasa.

“Jadi setiap kebijakan apapun harus melalui satu kajian, analisis, dan memperhitungan dampak dari kebijakan tersebut. Tidak serta-merta diambil, dan paksa kami untuk pindah,” tegas dia.

Anehnya, tambah dia, setelah memaksa pengusaha hasil bumi pindah ke Pasar Wairkoja, pemerintah tidak menyiapkan fasilitas apapun untuk mereka. Ketika hal ini ditanyakan saat pertemuan, Penjabat Sekda Sikka Wihelmus Sirilus beralasan nanti akan disiapkan.

Pemilik Toko Fajar, Sherly Lomi, yang juga terkena kebijakan ini, tetap menjalankan aktifitas seperti biasa. Bahkan ketika Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengunjungi tempat itu, aktifitas membeli hasil bumi tetap berjalan.

Pantauan media ini, para petani tetap datang menjual hasil bumi ke Toko Fajar Timur dan Toko Fajar. Mereka tidak pernah tahu kebijakan terbaru terkait transaksi hasil bumi wajib dilaksanakan di Pasar Wairkoja.

“Kebijakan apa lagi itu? Kami tidak tahu. Jangan bikin kebijakan yang menyusahkan petani. Kami sudah biasa datang jual di sini. Jangan paksa kami bolak-balik ke pasar, ke toko, hanya tambah beban biaya saja,” protes Eminolda, salah seorang petani yang siang itu menjual 181 kilogram kemiri di Toko Fajar.

Mobilitas jalan Trans Maumere-Larantuka di wilayah Kewapante tampak lengang. Tidak ada kemacetan luar biasa yang terjadi. Dua pengusaha hasil bumi ini punya lahan parkir yang cukup.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini