13 Advokat di Sikka Gugat Kapolri dan Kapolres

0
639
13 Advokat di Sikka Gugat Kapolri dan Kapolres
Para advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan

Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 13 advokat di Kabupaten Sikka menggugat Kapolri dan Kapolres setempat dalam perbuatan melawan hukum atas kasus pemerkosaan anak di bawah umur yang selama 4,5 tahun perkaranya tidak ditindaklanjuti.

Para advokat ini tergabung dalam Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan. Mereka bertindak sebagai kuasa penggugat atas nama Lukas Levi dan Anastasia Sama, yang merupakan orang tua korban.

13 Advokat di Sikka Gugat Kapolri dan Kapolres
Registrasi surat kuasa penggugat atas gugatan perbuatan melawan hukum, Senin (21/9)

Gugatan perbuatan melawan hukum ini sudah didaftarkan secara online melalui E-Court, Selasa (22/9). Pengadilan Negeri Maumere telah menerima pendaftaran gugatan, dengan memberikan registrasi perkara Nomor 33/Pdt.G/2020/PN.Mme.

“Sidang perdana akan digelar pada 13 Oktober 2020,” demikian keterangan Alfonsus Hilarius Ase, salah seorang advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan, Rabu (23/9).

13 Advokat di Sikka Gugat Kapolri dan Kapolres
Ketua Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan Yohanes D Tukan

Ketua Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan Yohanes D Tukan menuturkan kasus pemerkosaan terhadap EDJ terjadi pada 23 April 2016. Saat itu korban berumur 15 tahun, dan masih duduk pada Kelas VI sebuah sekolah dasar di Kecamatan Paga.

Sehari sesudahnya, kasus pemerkosaan ini dilaporkan ayah korban ke Polsek Paga. Penyidik baru melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri Maumere pada 1 Juni 2016, atau 1,5 bulan sejak kasus itu dilaporkan.

Selanjutnya jaksa penuntut umum mengembalikan berkas perkara ke Polsek Paga pada 1 Pebruari 2017, atau 8 bulan seaudahnya. Sejak berkas perkara dikembalikan, Polsek Paga tidak menindaklanjuti penyidikan guna melengkapi petunjuk jaksa penuntut umum.

Domi Tukan menambahkan, dalam kasus ini Polsek Paga telah menahan seseorang yang diketahui sebagai pelaku pemerkosaan dengan initial JLW. Pelaku ditahan pada 24 April 2016, dan tiga minggu sesudahnya dibebaskan tanpa ada alasan hukum.

“Penggugat berhak menuntut ketidakadilan di muka hukum terkait tidak diprosesnya tindak kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap anak kandung mereka,” ujar Domi Tukan beralasan.

Dia menambahkan Kapolres Sikka sebagai Tergugat 1 bertanggungjawab atas pelaksanaan tugas Polsek Paga yang mengeluarkan pelaku dan mengabaikan penyidikan, termasuk mengabaikan hak korban untuk mendapatkan keadilan.

Sementara Kapolri sebagai Tergugat 2, kata Domi Tukan, tidak melakukan pengawasan terhadap pengembanan fungsi dan pelaksanaan tugas kepolisian terhadap Tergugat 1 sebagai bawahannya.

Dalam gugatannya, Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan menegaskan bahwa klien mereka mengalami kerugian materiil dan immateriil dengan jumlah kerugian sebesar Rp 1.300.800.000.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini