
Setelah W.J Lalamentik, NTT dipimpin oleh seorang Gubernur berpangkat Mayor Jenderal TNI. Dia adalah Elias Tari, yang kemudian populis dengan nama El Tari.
Gubernur El Tari memimpin NTT sejak 12 Juli 1966, hingga meninggal pada 29 April 1978.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa Gaya Baru dari Kerajaan-kerajaan Tradisional, merupakan sebuah pemikiran brilian Gubernur kelahiran Pulau Sabu, 18 April 1926 itu.
“Tanam, tanam, sekali lagi tanam”, menjadi motto yang sangat terkenal pada zamannya.
Tidak cukup di situ. El Tari juga berpikir tentang persaudaraan orang-orang NTT. Dia lalu menginisiasi sebuah kompetisi sepak bola antarkabupaten di NTT.
Persaudaraan, persahabatan, kekeluargaan menjadi tonggak penting bagi El Tari. Dia menaruh harapan besar, bola kaki menjadi media yang strategis untuk merajut persaudaraan sesama anak NTT.
Kompetisi itu kemudian dinamakan El Tari Cup (ETC), bergulir pertama kali pada tahun 1969. Nama kompetisi ini kemudian diubah menjadi El Tari Memorial Cup (ETMC) pada tahun 1979, untuk mengenang mendiang El Tari yang meninggal pada tahun 1978.
Gagasan El Tari masih membekas dan membumi hingga sekarang. Sejak 2017, ETMC dilabeli dengan Liga 3, program sepak bola dari PSSI. Liga 3 ETMC sudah bergulir 2 edisi, tahun 2017 di Kabupaten Malaka dan tahun 2022 di Kabupaten Lembata.
Kabupaten Lembata yang otonom sejak tahun 1999, pertama kali ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Liga 3 ETMC. Itu pun untuk menggantikan Kabupaten Flores Timur yang mengundurkan diri sebagai tuan rumah.
Dalam kondisi minus malum, apalagi diterpa pandemi Covid-19, Bupati Lembata waktu itu Elieser Yentji Sunur dengan penuh semangat merancang sebuah konsep penyelenggaraan. APBD Lembata terkuras — kabarnya mencapai Rp 30 miliar — untuk gawe besar perdana ini.
Liga 3 ETMC XXXI di Kabupaten Lembata dibuka secara resmi pada 9 September 2022. Pemilihan tanggal ini bertepatan dengan peringatan Hari Olah Raga Nasional.
Hingga Jumat 23 September 2022, memasuki hari kedua babak besar, kompetisi ini telah menggelar 48 pertandingan, dan mengasilkan empat tim semifinalis. Masih tersisa 4 pertandingan hingga partai pemuncak yang dijadwalkan Kamis, 29 September 2022.
Sebanyak 48 pertandingan dilewati sempurna, dengan berbagai dinamika yang terjadi, baik di dalam lapangan pertandingan, maupun di luar lapangan pertandingan.
Dinamika pertandingan boleh dibilang berada dalam level standar. Masih seputar body charge, tackle keras, adu otot, adu mulut, termasuk protes atas kepemimpinan wasit. Tapi ada juga peningkatan seperti fair play, saling memaafkan, dan sikap kerendahan hati menerima kekalahan.
Seiring dinamika yang standar-standar itu, laga ke-47 mempertemukan Perse Ende dan Perseftim Flotim pada babak 8 besar, akhirnya meledak. Terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan suppporter Flotim.
Dari atas tribun GOR 99 mereka melempar botol air mineral ke dalam lapangan. Tidak hanya itu, mereka juga melempar batu.
Bench pemain dan bench wasit dijungkirbalikkan. Pagar batas penonton dirusak dan dibakar. Mereka mencari dan mengejar sejumlah orang yang menjadi target kekerasan.
Situasi mencekam. Pemain dan manejemen Ende dan Flotim berlindung di tengah lapangan. Syukur mereka tidak diganggu.
Petugas P3K lari terbirit-birit mengamankan diri. Begitu pula penonton mencari posisi aman agar tidak menjadi sasaran amuk massa.
Dalam sejarah ETC, ETMC, dan Liga 3 ETMC, mungkin inilah tindakan anarkis yang pertama kali dilakukan secara massal.
Aksi rusuh massal ini, tidak saja mencederai turnamen bergengsi di NTT itu. Tapi aksi ini nyata telah mencederai semangat merajut persaudaraan yang diinisiasi El Tari.
Andaikan El Tari masih ada, dia tentu akan marah besar. El Tari tidak akan diam melihat gagasan besarnya dirusak oleh kepentingan tidak jelas kaum perusuh.
Saya membayangkan El Tari yang berwibawa itu pasti akan melakukan perlawanan. Bisa saja dia mengambil pengeras suara, lalu berdiri gagah sambil mengimbau perusuh menghentikan aksi mereka.
Saya membayangkan El Tari memerintahkan aparat keamanan untuk bertindak tegas menghalau perusuh yang brutal, demi menjaga situasi kondusif.
Tapi sayang, Bung El telah pergi. Tidak ada figur El Tari lain yang tampil meredam suasana kerusuhan. Tidak ada sosok El Tari lain yang bisa menjaga kesakralan gagasan besar dan makna persaudaraan.
Kalau saja El Tari hadir kemarin, mungkin saja dalam wujud lain, dia menyaksikan kerusuhan itu sambil menangis.*** (vicky da gomez)















