
Maumere-SuaraSikka.com: Rapat dengar pendapat tentang dugaan sunat dana sertifikasi guru di Dinas PKO Sikka, Jumat (28/7), berlangsung seru.
Mantan Kepala Dinas PKO Sikka Yoseph Heriyanto Vandiron Sales, operator dana sertifikasi guru Iswadi, dan Bendahara Pengeluaran Irma, saling serang dalam forum RDP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saling serang tiga pejabat yang terlilit dana sertifikasi ini, semakin mengaburkan aliran dana sertifikasi triwulan pertama tahun 2023 yang diduga disunat sebesar Rp 642.159.226.
Awalnya mantan Kadis PKO Sikka menyampaikan kronologis masalah dana sertifikasi. Dia menggambarkan dari perjanjian kerja sama dengan KSP Nasari, hingga munculnya kasus pemotongan.
Yoseph Heriyanto Vandiron Sales memastikan mengetahui adanya pemotongan dana sertifikasi setelah mendapat informasi dari seorang guru.
Setelah melalui penelusuran, akhirnya dia mengetahui pemotongan berjumlah lebih dari Rp 600 juta. Dari pengakuan Bendahara Pengeluaran, mantan Kadis PKO Sikka baru mengetahui kalau uang tersebut telah diambil Iswadi.
Yoseph Heriyanto Vandiron Sales meminta Iswadi bertanggungjawab atas pemotongan dana sertifikasi. Dia lalu menyuruh Iswadi menandatangani surat pernyataan untuk bertanggungjawab terhadap uang tersebut.
Dalam keterangannya, dia juga membantah telah menerima uang dari Iswadi, masing-masing sebesar Rp 250.000.000 dan Rp 392.159.226.
Keterangan mantan Kadis PKO Sikka Yoseph Heriyanto Vandiron Sales ditentang Iswadi. Operator ini justeru mengaku dia memotong dana sertifikasi guru atas perintah mantan Kadis PKO Sikka.
Begitu pun dana tersebut diambil dari Bendahara Pengeluaran karena atas perintah mantan Kadis PKO Sikka.
Setelah menerima uang dari Bendahara Pengeluaran, Iswadi menuturkan dia mengantar ke mantan Kadis PKO Sikka.
Waktu pertama kali mengantar uang Rp 250.000.000, dia mengaku dikasih Rp 25.000.000. Lalu kedua kalinya dia mengantar lagi uang Rp 392.159.226, dan dikasih Rp 27.000.000.
“Saya siap bertanggungjawab atas Rp 52 juta yang saya makan,” tegas dia.
Selain terlibat saling serang dengan operator, mantan Kadis PKO Sikka juga terlibat saling serang dengan Bendahara Pengeluaran.
Keduanya terlibat “adu mulut” soal besaran uang yang dua kali dicairkan secara tunai yakni Rp 250.000.000 dan Rp 392.159.226.
Menurut Bendahara Pengeluaran, angka uang tersebut ditulis mantan Kadis PKO Sikka pada lembaran cek.
Sebalikbya mantan Kadis PKO Sikka malah menyebut Bendahara Pengeluaran yang menulis angka-angka uang tersebut.
Tiga pejabat penting ini diperkirakan mengetahui persis kasus dugaan sunat dana sertifikasi. Hingga RDP sore tadi, ketiganya masih bertahan dengan argumentasi masing-masing.
Selain Iswadi yang mengaku mendapatkan Rp 52 juta dari mantan Kadis PKO Sikka, hibgga kini belum diketahui ke mana larinya uang senilai Rp 590.159.226.
Dari berbagai keterangan dalam forum RDP tadi, DPRD Sikka masih menunggu hasil kerja Tim Audit Investigasi Inspektorat Sikka.
Nantinya, setelah menerima hasil audit, DPRD Sikka berencana menggelar lagi RDP untuk menghasilkan rekomendasi atas persoalan dugaan sunat dana sertifikasi guru.
RDP dugaan sunat dana sertifikasi dipimpin Ketua DPRD Sikka Donatus David, dihadiri kirang lebih 20 anggota DPRD Sikka. RDP dimulai pukul 15.15 Wita dan berakhir pukul 18.49 Wita.
Selain tiga pejabat penting dalam persoalan ini, RDP dihadiri juga Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera, Kadis PKO Sikka Germanus Goleng, Inspektur Pembantu Bari Fernandez, Pimpinan Cabang KSP Nasari Maumere, Stefanus Moda, dan perwakilan Ikatan Guru Sertifikasi (Tagsi).
Ratusan guru penerima dana sertifikasi memadati ruang paripurna. Mereka mendengarkan langsung jalannya RDP dengan harapan ada solusi yang bisa diambil agar dana sertifikasi yang diduga disunat bisa segera dikembalikan.*** (eny)















