

Maumere-SuaraSikka.com: Ratusan buruh di Pelabuhan Laurensius Say Maumere belakangan ini mulai menjerit. Pasalnya tuntutan dan tantangan kehidupan makin tidak sejalan dengan upah yang mereka terima. Upah sangat rendah, membuat mereka nyaris tidak bisa bertahan hidup.
Kondisi ini membuat sejumlah buruh yang tergabung dalam Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Laurensius Say mengadu ke DPRD Sikka, Kamis (3/7). Para buruh ingin agar wakil-wakil rakyat memberikan jalan keluar atas masalah serius yang sedang mereka hadapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan buruh sempat bertemu Ketua DPRD Sikka Stef Sumandi. Politisi PDI Perjuangan itu mendengarkan dengan bijak keluhan para buruh. Karena persoalan ini melibatkan banyak pihak lain, Stef Sumandi berencana menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama para pihak.

Vinsensius, seorang warga Kelurahan Kabor Kecamatan Alok mengaku sudah puluhan tahun bekerja sebagai buruh darat. Menurut dia, baru belakangan ini burih darat merasakan kesulitan yang sangat terbebani.
Buruh darat, jelas dia, berjumlah 180 orang. Mereka dilebur menjadi 6 kelompok kerja, dengan setiap kelompok beranggotakan 30 orang. Vinsensius sendiri masuk dalam Kelompok 5.
Sistem pengupahan kepada buruh darat berdasarkan hitungan bongkar muat barang pada container milik perusahaan-perusahaan. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa buruh darat seperti PT Citra Niaga Logistik Maumere, PT Seran Permai Maumere, PT Meratus Line Cabang Maumere, dan PT Roxy Mena Maumere.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












