Belanja hibah dianggarkan sebesar Rp 36.069.881.858. atau bertambah Rp 59.460.500 atau naik 0,17 persen dari target semula sebesar Rp 36.010.421.358. Belum diketahui tambahan belanja hibah ini menyasar ke mana.
Berbeda dengan itu justeru belanja bantuan sosial dianggarkan sebesar Rp 2.639.500.000, berkurang Rp 367.500.000 atau turun 12,22 persen dari targer semula sebesar Rp 3.007.000.000.
Hak masyarakat menikmati pembangunan melalui belanja modal, untuk tahun ini sepertinya tidak maksimal. Semula dianggarkan Rp 98.047.981.675,67 kini dikurangkan Rp 19.530.379.960 atau turun 19,92 persen, sehingga hanya dianggarkan Rp 78.517.601.715,67.

Dalam Pidato Pengantar Bupati Sikka, diketahui bukan hanya belanja daerah yang mengalami pengurangan anggaran. Ternyata pendapatan daerah juga berkurang. Semula ditargetkan sebesar Rp 1.350.612.500.000, laku diusulkan berkurang Rp 19.737.500.000 atau turun 1,46 persen, sehingga dianggarkan Rp 1.330.875.000.000.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menjadi salah satu sumber pendapatan, dianggarkan sebesar Rp 124.083.709.163 bertambah Rp 1.339.087.549 atau naik 1,09 persen dari target semula sebesar Rp 122.744.621.614.
Hingga 19 September 2025, realisasi PAD baru sebesar Rp 80.188.267.246,74 atau 70,53 persen dari target pergeseran anggaran sebesar Rp 113.690.380.553. Tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun anggaran sebelumnya, sepertinya sulit bagi pemerintah daerah mencapai 100 persen PAD dalam sisa waktu 3 bulan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












