Selain itu, meskipun angka kemiskinan menurun menjadi 11,25 persen dari target 11,51 persen, namun menurut Yuslin Nursivin Dua Botha, jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya sebesar 11,40 persen, penurunannya relatif kecil, yaitu hanya sekitar 0,15 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan masih memerlukan langkah-langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh masyarakat Kabupaten Sikka.
Fraksi Partai Perindo mencermati bahwa dokumen LKPJ masih lebih menekankan pada penyampaian capaian pembangunan, sementara evaluasi terhadap kelemahan dan kendala program belum disampaikan secara proporsional. Padahal, kata Yuslin Nursivin Dua Botha, realitas di masyarakat menunjukkan masih adanya persoalan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, keterbatasan akses layanan kesehatan dan pendidikan, serta rendahnya daya saing ekonomi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yuslin Nursivin Dua Botha menegaskan pertumbuhan ekonomi daerah belum benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil, khususnya petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi seharusnya memperkuat sektor riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pertanyaannya adalah sejauh mana langkah konkrit pemerintah daerah untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi mampu menurunkan ketimpangan ekonomi masyarakat?” tanya Yuslin Nursivin Dua Botha.
Dia juga mempertanyakan bagaimana strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi rakyat berbasis pertanian, perikanan, dan UMKM agar distribusi pendapatan dapat terjadi secara merata.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












