


Maumere-SuaraSikka.com: GMNI Sikka menyoroti profesionalitas kinerja kerja kepolisian di Polres Sikka. Dua hal yang disinggung yakni kematian tidak wajar STN di Rubit, dan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan mobil bor air tanah senilai Rp 2,3 miliar lebih pada Dinas PUPR Sikka.
Dua kasus itu mendorong GMNI Sikka turun ke jalan, Rabu (4/3). Mereka menggelar aksi di Jalan Ahmah Yani depan Polres Sikka. Ketua GMNI Sikka
Ketua GMNI Sikka Wilfridus Iko menilai penanganan dua kasus rersebut sangat tidak profesional dan terkesan lamban. Padahal, menurut dia, data dan fakta sudah sangat mendukung Polres Sikka menangani secara lebih cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bukti-bukti awal sudah terang, tetapi polisi tidak berani menetapkan tersangka. Ada apa? Kami minta copot Kapolres dan Kasatreskrim!” tegas Ketua GMNI Sikka Wilfridus Iko dari atas mobil orasi.
Beberapa orator juga meminta Kapolri mengevaluasi kinerja kerja Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno dan Kasatreskrim Iptu Reinhard Dionisius Siga. Dua pejabat ini dipandang memiliki wewenang hukum yang penuh atas lambannya penanganan kasus kematian tidak wajar STN dan dugaan tipikor pengadaan mobil bor.
Aksi GMNI Sikka awalnya hanya dilaksanakan di perempatan Jalan Ahmad Yani. Pasalnya pada saat yang sama, PMKRI Maumere sedang menggelar aksi terkait kematian STN di depan pintu masuk Mapolres Sikka. Setelah PMKRI Maumere beralih ke halaman Mapolres Sikka, barulah GMNI Sikka menggelar aksi di depan pintu masuk Mapolres Sikka.
GMNI Sikka mendesak Polres Sikka segera menetapkan tersangka pada dua kasus tersebut. Khusus kasus kematian STN, penyidik telah menetapkan 1 orang tersangka yakni FRG berusia 16 tahun.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












