Mengasah Parang, Mengasa Rezeki

    0
    110
    Mengasah Parang, Mengasa Rezeki
    Carolus Boromeus pengrajin parang dan pisau di Desa Nele Barat Kecamatan Nele
    Seorang lak-laki tua, tanpa mengenakan baju. Tampak duduk menepi di sudut tedang. Dia asyik memainkan gurinda. Benda tajam itu menari-nari pada sebatang  besi. Matanya terus melotot tak berkedip pada besi itu. Percik-percik api keluar dari persinggungan gurinda dan batang besi. Setelah 2-3 menit dia berhenti.
    Lalu Carolus Boromeus, laki-laki itu, memperhatikan besi sepanjang 50 centimeter yang jadi objek pekerjaannya. Dia membolak-balik, melihatnya dengan mata telanjang. Kemudian gurinda kembali menari-nari. Setelah itu dia berhenti dan mencermati lagi besi itu. Berkali-kali seperti itu. Sampai dia yakin besi yang digurinda sudah berubah bentuk menjadi parang yang layak dijual.
    Mengasah parang, demikian rutinitas setiap hari laki-laki berusia 50-an tahun itu. Sudah lebih dari 30 tahun, dia bergelut setia sebagai pengrajin parang. Hari itu, Senin (29/7), keasyikan bekerja, sampai dia tidak menghiraukan hiruk-pikuk tetangga yang berebutan air bersih dari mobil tangki milik BPBD Sikka.
    Warga Dusun Natarlorong Desa Nele Barat Kecamatan Nele Kabupaten Sikka itu, setiap hari menghasilkan 5 buah parang dan pisau. Jika sudah banyak terkumpul, sekitar 20-30 buah, dia menjualnya di Pasar Alok Maumere. Biasanya dia ke Pasar Alok pada setiap hari Selasa, hari pasar. Pengalamannya, pada hari pasar banyak konsumen yang membutuhkan parang atau pisau.
    Sebilah parang dijualnya dengan harga Rp 150.000. Berbeda dengan satu bilah pisau yang dihargai Rp 100.000. Jika sedang mujur, setiap hari pasar, Carolus Boromeus bisa melepas 10-15 pisau dan parang. Kalau lagi benar-benar beruntung, pisau dan parang yang dia bawa semuanya laris terjual. Sebaliknya, kalau lagi apes, dia terpaksa pulang tangan hampa.
    Carolus Boromeus bekerja secara mandiri. Batang fer mobil yang tidak terpakai, itulah bahan baku utama. Biasanya dia membeli batang fer dari pengumpul besi tua. Satu kilogram harganya Rp 12.000. Dia selalu berupaya membeli secukupnya, karena terbentur modal.
    Mengasah Parang, Mengasa Rezeki
    Yohanes Nong Vivi sedang menempa parang yangdibentuk dari batang fer mobil
    Kalau batang fer sudah ada, Carolus Boromeus mulai memotongnya sesuai ukuran dan bentuk parang atau pisau. Lalu parang dan pisau yang masih kasar itu, dia panaskan di bara api. Setelah itu dia mulai menempa dengan hammer yang besar, untuk mendapatkan ketebalan. Terkadang dia dibantu keluarganya. Seperti hari itu, dia dibantu Yohanes Nong Vivi, seorang pemuda yang berusia sekitar 30-an tahun.
    Proses memotong batang fer, membakarnya di bara api, dan menempa, dilakukan di belakang rumah. Carolus Boromeus membangun sebuah pondok, dijadikan semacam dapur, untuk memperlancar kerjanya. Dari tempat itu dia berpeluh keringat, mengasa rezeki.
    Dia punya tiga anak yang masih kecil. Semuanya masih sekolah. Dari usaha mengasah parang, Carolus Boromeus menghidupkan keluarganya. Istrinya hanya seorang ibu rumah tangga sederhana, yang rutinitas mengurus rumah tangga.
    Bicara modal usaha, pria berbadan gempal kekar itu tampak senyum saja. Ada banyak pengrajin parang di tempat itu, tapi semuanya bermodalkan sendiri-sendiri. Dia mendambakan jika dibentuk kelompok, lalu mendapat bantuan modal melalui dana desa. Tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menembus kebuntuan itu.*** (vicky da gomez)

    TINGGALKAN BALASAN

    Silahkan ketik komentar anda
    Silahkan ketik nama anda di sini