Desa Hale dan Sentuhan Maruli “Bapak Air” Simanjuntak

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 2 Februari 2022 - 22:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 118 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mayjen TNI Maruli Simanjuntak

Mayjen TNI Maruli Simanjuntak

Pada hari Senin 31 Januari 2022, Mayjen TNI Maruli Simanjuntak dilantik Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurahman sebagai Panglima Kostrad. Selain Maruli, ada beberapa Jenderal lain yang dilantik sebagai Pangdam.

Saya tertarik membaca sebuah tulisan pada Tribunnews.com tanggal 22 Januari 2022 tentang Pangkostrad yang baru ini. Oleh penulisnya Eggy Masadiah, Maruli Simanjuntak disebutnya sebagai “Bapak Air”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal-hal lain mengenai karir militernya yang menonjol, dapat dibaca dalam tulisan tersebut, atau juga dapat di-googling di internet.

Saya malah penasaran, apa yang dimaksudkan dengan sebutan “Bapak Air” bagi Maruli Simanjuntak.

Ternyata sebagai Pangdam Udayana yang berkedudukan di Denpasar dengan wilayah tanggungjawabnya meliputi Propinsi Bali, NTB, dan NTT, Maruli banyak membantu masyarakat di daerah-daerah yang kering dan kekurangan air bersih. Sekitar 150 proyek air bersih telah dibantu pembangunan/pengadaannya oleh Maruli.

Giat pemasangan pompa hidran di Desa Hale

Maka saya langsung teringat bahwa di kampung kelahiran saya, Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka Flores NTT, telah dan sedang dibangun 2 proyek air bersih atas bantuan Pangdam Maruli.

Saya mengikuti perkembangan pembangunan di Desa Hale lewat sosial media yang di-upload Kepala Desa Albertus Ruben da Iry.

Seorang prajurit yang terlibat pada kegiatan pemasangan pompa hidran di Desa Hale

Napunkontas dan Watuwolod
Wairara adalah nama sebuah kali atau sungai kecil di Desa Hale. Volume airnya cukup besar dan stabil sepanjang tahun. Kali ini menjadi sumber air minum bagi masyarakat di Desa Hale, khususnya penduduk yang berdiam di Dusun Watuwolod dan Napungkontas.

Tetapi orang harus berjalan cukup jauh, 2 sampai 3 kilometer untuk mengambil air dengan menggunakan bambu sebagai penampung, kemudian dibawa ke rumah untuk keperluan masak dan minum.

Selama ratusan atau mungkin ribuan tahun sejak orang berdiam pada dua dusun itu, mereka pasti mengambil air dari Wairara. Karena itulah satu-satunya sumber air yang disediakan alam.

Sekitar 30 tahun lalu, dengan bantuan AusAid — lembaga donor Australia — diadakan pemasangan pipa untuk menarik air dari sumber air di Wairmale, yang letaknya sebelah atas Wairara, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Akan tetapi ketersediaan air bersih ini masih jauh dari cukup. Selain karena volume air dari sumbernya tidak besar, juga jumlah penduduk yang terus bertambah sehingga kebutuhan akan air bertambah.

Oleh karena itu masyarakat sangat senang dan bersyukur ketika mendapat kabar bahwa Pangdam Udayana akan memberikan bantuan berupa pompa-pompa hidran untuk pengadaan dan distribusi air ke rumah-rumah penduduk.

“Masyarakat sangat senang menerima bantuan untuk pengadaan air bersih dari Bapak Pangdam Udayana,” ujar Kepala Desa Albert Ruben da Iry.

Dana untuk pengadaan pompa-pompa hidran berasal dari Kodam Udayana. Sedangkan untuk pengerjaannya, pemerintah desa juga mengalokasikan dana. Jadi ada kerja sama antara Kodam dan Desa.

Dandim Sikka Letkol Muhammad Jafar saat memantau pemasangan pompa hidran

Untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Dandim 1603 Sikka Letkol Muhammad Jafar mengerahkan Danramil Bola dan para Babinsa, khususnya Babinsa Mapitara Robbi Masneno, dan teknisi melakukan pekerjaan pemasangan pompa hidran. Mereka dibantu tenaga tukang setempat dan juga masyarakat.

Pekerjaan pemasangan 2 unit pompa hidran di Wairara dimulai bulan Juli 2021, dan selesai pada Desember 2021. Masyarakat Dusun Napunkontas dan Watuwolod yang berjumlah 1.765 jiwa kini sudah menikmati air bersih dan sehat.

Selesai pemasangan pompa hidran dan pengaliran air ke rumah-rumah penduduk, mereka membangun pula sebuah fasilitas MCK umum pada Pasar Desa Hale.

Masyarakat ikut membantu pekerjaan pemasangan pompa hidran

Dusun Glak
Sementara itu untuk Dusun Glak sedang dibangun 4 pompa hidran pada sumber air Aragete. Dua pompa hidran untuk mengalirkan air bersih kepada 533 jiwa penduduk, dan dua pompa lagi untuk mengalirkan air bagi irigasi/pengairan sekitar 150 hektar lahan pertanian.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Selama ini lahan-lahan tersebut hanya diolah sebagai ladang tanah kering yang bergantung kepada musim hujan. Dengan adanya air, maka lahan kering akan dapat diubah menjadi sawah.

Ini sebuah inovasi yang tidak saja mengubah pola bertani masyarakat setempat, tetapi juga memperkenalkan kepada mereka budaya bertani yang baru yaitu sawah, dengan potensi penanaman padi, jagung, dan tanaman sela yang bervariasi.

Proyek ini dimulai Nopember lalu dan direncanakan selesai Desember 2021. Tetapi mengingat musim hujan dan angin, maka pekerjaan sementara ditunda.

Kepala Desa Ruben da Iry mengatakan masyarakat yang biasanya bergotong-royong membantu pekerjaan meminta agar pekerjaan proyek untuk sementara waktu dilakukan dua hari dalam seminggu.

“Supaya pada hari-hari lain mereka bisa mengolah ladang-ladang mereka untuk ditanami padi. Nanti kalau sudah selesai menanam, mereka siap membantu pekerjaan proyek setiap hari sampai selesai dan dapat berfungsi, baik untuk air bersih bagi warga maupun untuk irigasi,” ungkap Ruben.

Penulis sedang mewawancarai Kepala Desa Hale

Terima Kasih Maruli
Pangdam Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak sempat mengadakan video conference dengan Dandim Sikka Letkol Muhammad Jafar beserta Danramil Bola dan para Babinsa yang terlibat dalam proyek pengerjaan air bersih tersebut.

Pangdam berpesan agar pekerjaan dilakukan sebaik-baiknya agar hasilnya (output) juga baik dan dapat dinikmati oleh masyarakat setempat.

Sementara itu mewakili 2.696 jiwa masyarakat Desa Hale, Kepala Desa Hale Ruben da Iry menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Pangdam Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, Dandim Sikka Letkol Muhammad Jafar, dan para Babinsa serta teknisi TNI yang melakukan pekerjaan pada proyek tersebut.

Dia juga berterimakasih kepada semua yang berpartisipasi dalam pengerjaan proyek-proyek ini, yang sangat bermanfaat bagi masyarakat desanya.

Jenderal TNI M Jusuf

Ingat M Jusuf
Apa yang dilakukan Maruli Simanjuntak, membantu ketersediaan air bersih bagi masyarakat, mengingatkan saya akan Jenderal TNI M Jusuf, almarhum, Menhankam/Pangab 1978-1983 pada masa Orde Baru.

Jusuf adalah seorang negarawan, tokoh militer Indonesia yang sangat populer dan dicintai prajurit dan rakyat Indonesia, karena perhatian dan karya-karyanya yang langsung menyentuh kepentingan mereka.

Menhankam/Pangab Jusuf melakukan apa yang belakangan ini dikenal sebagai “blusukan”, yaitu kunjungan maraton ke seluruh pelosok negeri dan berbagai instansi TNI/ABRI (TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU, dan Kepolisian RI).

Dia berkomunikasi langsung dengan prajurit dan keluarga mereka, dengan pemerintah daerah, dan masyarakat luas.

Tema besar yang diangkat dan dijalankan Jusuf selama 5 tahun masa jabatannya adalah “Kemanunggalan ABRI dan Rakyat”, yaitu persatuan dan kesatuan antara TNI/ABRI dengan Rakyat sebagai Ibu Kandungnya, dalam membangun, mengembangkan, memajukan dan membela serta mempertahankan Tanah Air tercinta, Indonesia.

Untuk itu Jusuf menjalankan program yang terkenal yaitu ABRI Masuk Desa (AMD), yakni mengerahkan prajurit-prajurit ABRI untuk membangun proyek-proyek yang bermanfaat dan menyentuh langsung kepentingan ABRI dan masyarakat luas.

Jusuf membangun dan memperbaiki rumah-rumah ibadah, jalan dan jembatan, pengadaan air bersih, stasiun relay TVRI, dan sebagainya. Proyek-proyek ini dapat dimanfaatkan dan dinikmati oleh keluarga ABRI dan juga masyarakat.

Banyak sekali proyek yang dibantu dan dibangun, tetapi saya ingin menyebut 2 proyek yang penting dan sungguh bermanfaat bagi masyarakat di Kota Maumere, yakni pembangunan/pengadaan air bersih dan stasiun relay TVRI di Iligetang.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Pada masa itu hanya TVRI satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, belum ada stasiun televisi swasta sebanyak sekarang.

Air Pisang
Menjelang pengujung tahun 1979, terjadi musim kemarau yang panjang di daerah Flores, khususnya di wilayah Kabupaten Sikka.

Meskipun sebenarnya masyarakat di daerah ini memang sudah biasa kekurangan air bersih/air minum sehingga banyak yang mengambil air dari batang pisang, tetapi kekeringan waktu itu termasuk ekstrim.

Berita-berita mengenai masyarakat harus mengambil air dan mengonsumsi dari batang pisang sempat tersiar pada surat-surat kabar Jakarta.

Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Jusuf yang menerima laporan dari bawahannya atau mungkin membaca sendiri berita-berita tersebut, tergerak hatinya untuk mencari solusi, mengadakan air bersih bagi masyarakat Maumere.

Waktu itu saya bekerja sebagai wartawan Seksi Hankam mewakili surat kabar Harian Suara Karya, Jakarta, dan termasuk salah satu anggota tetap rombongan wartawan yang mengikuti dan meliput kunjungan kerja dan kegiatan Menhankam/Pangab ke seluruh negeri.

Pada suatu hari di bulan Desember 1979, rombongan Menhankam terbang dari Dili, Timtim, yang waktu itu masih bergabung dengan Indonesia, menuju Maumere di Flores.

Di dalam pesawat Hercules VIP TNI-AU yang menerbangkan kami, Jenderal Jusuf memberitahu wartawan bahwa kami akan terbang ke Maumere, Flores. Dia ingin melihat dan mendengar langsung kesulitan masyarakat akan air bersih, yang mengakibatkan mereka terpaksa minum air dari batang pisang.

Dalam rombongan itu, ada 2 orang wartawan yang berasal dari Maumere, yaitu Ansel da Lopez dari Harian Kompas, dan saya dari Suara Karya.

Dalam perbincangan dengan Jusuf di atas pesawat, Ansel minta kepada Jenderal Jusuf agar membantu pengadaan air bersih di Kota Maumere karena masyarakat sangat kekurangan air bersih.

Sebelum Jusuf menjawab, saya menambahkan, “Juga stasiun relay TVRI Pak Jusuf, orang-orang di situ tidak bisa menangkap siaran TVRI karena belum ada stasiun relay”.

Jusuf tidak menjawab, tapi hanya senyum-senyum saja. Dalam hati saya berpikir Jusuf pasti akan membantu. Tetapi bagaimana kalau tidak ada permintaan dari pemerintah dan masyarakat setempat?

Karena itu sebaiknya ada dulu permintaan dari Bupati Sikka saat memberikan laporan mengenai situasi daerahnya, dan sesudah itu Jusuf pasti akan memberikan tanggapan atau jawabannya.

Oleh karena itu waktu tiba di ruang tunggu Bandara Waioti, kini Bandara Frans Seda, sebelum berangkat ke Kota Maumere, saya sempat membisiki Bupati Daniel Woda Pale untuk minta bantuan mengatasi masalah kesulitan air dan stasiun relay TVRI agar masyarakat bisa menonton siaran TVRI.

Sore itu dalam pertemuan di ruang sidang DPRD Sikka, Bupati Dan Woda Pale dalam laporannya sempat mengajukan permintaan tersebut. Dan Jusuf menanggapinya dengan positip.

Malam harinya dalam rapat umum di Lapangan Kota Baru, Jusuf menyampaikan kepada masyarakat luas mengenai permintaan Bupati akan pengadaan air bersih dan stasiun relay TVRI. Dan bahwa Departemen/Hankam ABRI akan memenuhi permintaan tersebut. Masyarakat menyambut dengan tepuk tangan dan pekikan meriah.

Jusuf memenuhi janjinya. Dalam waktu beberapa bulan berikutnya, proyek pengadaan air bersih dan stasiun relay TVRI selesai dibangun. Masyarakat dapat menikmati kecukupan air bersih dan juga menonton siaran TVRI.***

Ditulis oleh Ans Gregory da Iry, mantan wartawan Suara Karya, kini tinggal di Bogor

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WITA

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Uskup Maumere Kunjungi 92 Pasien RSUD TC Hillers Maumere yang Dirawat di Tenda Darurat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:21 WITA

Pascagempa Bumi Tektonik, 777,7 Ton Bantuan Mengalir Melalui Maumere dan Labuan Bajo

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 14:09 WITA

Pascagempa Bumi, Belanja Modal di Sikka “Hilang” Rp 12 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:00 WITA

PDI Perjuangan Lepas Kapal RS Laksamana Malahayati Bantu Korban Gempa di NTT

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:20 WITA

Longsor Ekstrim di Palue Akibat Gempa Bumi, Balai Jalan PUPR Kirim 3 Unit Exavator

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:37 WITA

Diaspora Flobamora di Papua Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi

Berita Terbaru

Salah satu rumah warga mengalami rusak berat akibat guncangan gempa bumi tektonik di Flores

Bencana Alam

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agu 2026 - 10:45 WITA