KOTA Maumere telah berkembang pesat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.
Salah satu kemajuan paling signifikan yang Saya saksikan di Kota Maumere 3 minggu lalu yakni kehadiran Jalan Lingkar Luar.
Mengagumkan. Jalan baru itu segera membuat Kota Maumere terkesan sebagai kota paling besar di Flores. Paling tidak dalam artian keluasan wilayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seingat Saya gagasan Jalan Lingkar Luar itu datang dari Bupati Alexander Longginus. Selanjutnya terealisasi di masa Bupati Sosimus Mitang.
Setahu Saya pula, dana pembangunan bagi jalan yang mengitari bagian selatan Kota Maumere itu dulu diperjuangkan oleh Anggota DPR RI, Melchias Mekeng.
Konon, proses politik anggaran di Senayan untuk mendapatkan dana pembangunan Lingkar Luar saat itu sungguh tidak mudah.
Namun pada akhirnya pertarungan itu bisa dimenangkan Melchias Mekeng berkat dukungan koordinasi dan komunikasi yang kondusif dengan Bupati Sosimus.
Saat melintasi Lingkar Luar di simpang Jalan Brai, tak seberapa jauh dari ujung landasan pacu Bandara Frans Seda, memori Saya sempat teringat akan kerja sama apik di masa lalu, antara Menteri Perhubungan Frans Seda pada tahun 1970-an dengan Bupati L. Say ketika mereka berhasil mengkonversi Lapangan AURI Waioti menjadi Penerbangan Sipil (Pensip) Waioti.
Kolaborasi sinergis antara pusat dan daerah memang akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kemajuan wilayah dan masyarakat Maumere. Bukan sebaliknya.
Sore masih sedu. Setelah menyambangi Lepo Bispu, mobil sewaan yang Saya tumpangi melewati kawasan Gelora Samador.
Pada latar belakang stadion kebanggaan Kota Maumere itu tampak jelas kubah besar mesjid di wilayah Perumnas.
Terbit niat untuk menengok lubang galian eks peletakan batu pertama Menara Lonceng Paus Yohanes Paulus II di dalam stadion itu. Namun tak jadi karena terhalang sempitnya waktu.
Angelo Lau, supir mobil sempat berkisah bahwa di Gelora Samador, belum lama berselang pernah diadakan sebuah lomba pacuan kuda sedaratan Flores. Ramai sekali orang datang menonton.
Membaca opini atau kritik keras Petrus Selestinus dan Marianus Gaharpung belakangan ini terkait rencana pembangunan Menara Lonceng di Gelora Samador yang masih terbengkelai itu, membuat imajinasi Saya sontak terhubung dengan ceritera Anjelo tentang pacuan kuda tadi.
Kuda Belis
Kota Maumere tahun 1970 sering dijuluki sebagai kota debu. Jangan ditanya tentang debu pada musim kering di kota itu. Debu naik seliweran ditiup angin membubung tinggi, terkadang bercampur dengan bekas kotoran kuda.
Betul, di masa itu, hewan kuda masih lumrah lalu lalang di Kota Maumere. Terutama pada Selasa yaitu hari Pasar Maumere, orang dari berbagai tempat seperti Kangae, Watuliwung, Habi, Brai, Nele, Koting, Nita, Magepanda dan lain lain, biasa masuk keluar Kota Maumere dengan menunggang kuda sambil mengangkut barang dagangan.
Selain berfungsi menjadi sarana transportasi dan pengangkutan, kuda di Maumere di masa itu juga berguna sebagai alat tradisi adat istiadat masyarakat seperti belis dalam suatu perkawinan.
Budaya ini masih berlaku hingga kini walau hewan itu sudah jarang terlihat di kota.
Membayar belis dengan kuda itu menunjukkan martabat adat yang tinggi dalam suatu perikatan keluarga.
Bahwa suatu kesepakatan hubungan perkawinan itu misalnya, telah sah dan resmi dengan meterai belis kuda.
Peletakan batu pertama Menara Lonceng di Gelora Samador setahun lalu, bisa saja diibaratkan sebagai tanda kesepakatan belis yang harus dipenuhi agar dapat dianggap bermartabat.
Pemenuhan dalam artian pembangunan Menara Lonceng itu seharusnya bisa diwujudkan Bupati Robby Idong di sisa waktu berkuasa ini, bila ada anggaran, atau kelak bila ia terpilih kembali.
Atau oleh penggantinya nanti, bersama seluruh stakeholder termasuk masyarakat Maumere di manapun.
Kuda Balap Merah Gondrong
Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dan pengangkutan serta menjadi bagian dari budaya adat istiadat masyarakat, hewan kuda di tahun 1970-an juga pernah diperlombakan dalam arena balap kuda di Stadion Madawat.
Warga Maumere generasi berusia di atas 55-an tentu masih ingat nama-nama kuda favorit di masa itu seperti Merah Gondrong, Putih Kelinci, Kuning Lupa Budi, Mitan Gatar, dan lain lain.
Di antara kuda lokal asli Maumere, Merah Gondrong adalah jawara. Kuda milik Om Leo dari Wairhubing ini hanya kalah cepat oleh kuda Jupiter atau Saturnus milik Dokter Hillers yang didatangkan dari Pulau Sumba. Mungkin karena soal ukuran fisik dan jangkauan.
Pernah ada ceritera bahwa Merah Gondrong selalu dirawat dengan baik dan diperlakukan secara istimewa oleh pemiliknya.
Merah Gondrong tidak pernah dipakai sebagai alat angkut atau tunggangan kecuali saat berlatih dan berlomba. Konsumsi makan minum Merah Gondrong juga sangat diperhatikan.
Menjelang perlombaan pacuan, Merah Gondrong biasa mendapatkan suplemen tambahan seperti madu bercampur telor ayam dan sedikit takaran moke sehingga konon akan semakin bertenaga.
Namun asupan moke tidak boleh overdosis agar kuda tetap seimbang, tidak menjadi liar tak terkontrol.
Masyarakat Maumere sejak dulu umumnya juga biasa mengonsumsi moke. Minum moke secukupnya mungkin baik untuk kesehatan atau menghangatkan pergaulan.
Tetapi minum moke kebanyakan bisa menghilangkan keseimbangan dalam berpikir, berencana, berperilaku, bertindak mengambil keputusan dan berkata kata.
Setiap pemimpin dalam diskresi atas suatu kebijakan dan upaya pembangunan apapun seharusnya selalu tenang, tidak gegabah grusa grusu dan mempertimbangkan semua aspek terkait secara matang dan terukur.
Demikian pula sebaliknya, dalam lontaran kritis sebagai kontrol publik terhadap proses pembangunan seperti misalnya pada kasus Menara Lonceng yang terkesan mangkrak itu, semua pihak tetap perlu menjaga keseimbangan agar tidak nampak seperti kuda yang mabuk moke.
Kuda Troya
Dalam kisah mitologi Yunani yang ditulis Homeros, terdapat sebuah episode menarik tentang Perang Troya.
Kecerdikan Odisseus dengan strategi kuda kayu berhasil mengelabui lawan, sehingga Kota Troya akhirnya bisa diserbu masuk dan berhasil ditaklukan bala tentara Yunani.
Lubang galian Menara Lonceng Maumere yang mangkrak setahun lebih ini sekarang telah menjadi sasaran tembak.
Di berbagai media, proyek prestisius ini kerap dipergunjingkan pro kontra oleh berbagai elemen masyarakat Sikka. Bupati Robby Idong selaku penggagas ikut menjadi target bully-an masyarakat.
Dalam tahun politik jelang Pilkada 2024, kegagalan pembangunan seperti Menara lonceng tersebut bisa saja menjadi kuda Troya bagi lawan politik.
Ada amunisi untuk menghantam incumbent. Ada juga yang memancing di air keruh. Itu wajar saja dalam dunia politik.
Seperti kalimat Bung Kanis yang sering diulang-ulang oleh Mas Anto da Silva dari Koliaduk, “Berpolitik praktis adalah masuk bersilat taktik dan strategi di arena, dengan akibat yang pasti jelas hanya satu, siapa salah buka langkah dia terlempar keluar gelanggang“.
Maka Bupati Robby Idong dan semua stakeholder terkait perlu ‘keluar’ bertanggungjawab menjelaskan secara gentleman kepada publik tentang alasan mangkrak dan bagaimana rencana selanjutnya.
Membiarkan mengambang atau membangun apologi tidak akan menyelesaikan persoalan.
Maumere harus bisa juga dikembangkan sebagai kota dengan kesejarahannya sendiri.
Sudah ada monumentalisasi bagi peristiwa maupun nama tokoh pendahulu, namun masih sangat kurang.
Ada beberapa peristiwa dan banyak tokoh lagi yang pantas dikenang masyarakat termasuk Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi kota itu.***
Ditulis oleh Drs. GF Didinong Say, diaspora Maumere, tinggal di Jakarta















