3 Kuda dan 1 Menara Lonceng di Maumere: Sebuah Refleksi Perjalanan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 7 Februari 2023 - 22:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 160 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

G.F Didinong Say

G.F Didinong Say

KOTA Maumere telah berkembang pesat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.

Salah satu kemajuan paling signifikan yang Saya saksikan di Kota Maumere 3 minggu lalu yakni kehadiran Jalan Lingkar Luar.

Mengagumkan. Jalan baru itu segera membuat Kota Maumere terkesan sebagai kota paling besar di Flores. Paling tidak dalam artian keluasan wilayah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seingat Saya gagasan Jalan Lingkar Luar itu datang dari Bupati Alexander Longginus. Selanjutnya terealisasi di masa Bupati Sosimus Mitang.

Setahu Saya pula, dana pembangunan bagi jalan yang mengitari bagian selatan Kota Maumere itu dulu diperjuangkan oleh Anggota DPR RI, Melchias Mekeng.

Konon, proses politik anggaran di Senayan untuk mendapatkan dana pembangunan Lingkar Luar saat itu sungguh tidak mudah.

Namun pada akhirnya pertarungan itu bisa dimenangkan Melchias Mekeng berkat dukungan koordinasi dan komunikasi yang  kondusif dengan Bupati Sosimus.

Saat melintasi Lingkar Luar di simpang Jalan Brai, tak seberapa jauh dari ujung landasan pacu Bandara Frans Seda, memori Saya sempat teringat akan kerja sama apik di masa lalu, antara Menteri Perhubungan Frans Seda pada tahun 1970-an dengan Bupati L. Say ketika mereka berhasil mengkonversi Lapangan AURI Waioti menjadi Penerbangan Sipil (Pensip) Waioti.

Kolaborasi sinergis antara pusat dan daerah memang akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kemajuan wilayah dan masyarakat Maumere. Bukan sebaliknya.

Sore masih sedu. Setelah menyambangi Lepo Bispu, mobil sewaan yang Saya tumpangi melewati kawasan Gelora Samador.

Pada latar belakang stadion kebanggaan Kota Maumere itu tampak jelas kubah besar mesjid di wilayah Perumnas.

Terbit niat untuk menengok lubang galian eks peletakan batu pertama Menara Lonceng Paus Yohanes Paulus II di dalam stadion itu. Namun tak jadi karena terhalang sempitnya waktu.

Angelo Lau, supir mobil sempat berkisah bahwa di Gelora Samador, belum lama berselang pernah diadakan sebuah lomba pacuan kuda sedaratan Flores. Ramai sekali orang datang menonton.

Membaca opini atau kritik keras Petrus Selestinus dan Marianus Gaharpung belakangan ini terkait rencana pembangunan Menara Lonceng di Gelora Samador yang masih terbengkelai itu, membuat imajinasi Saya sontak terhubung dengan ceritera Anjelo tentang pacuan kuda tadi.

Kuda Belis
Kota Maumere tahun 1970 sering dijuluki sebagai kota debu. Jangan ditanya tentang debu pada musim kering di kota itu. Debu naik seliweran ditiup angin membubung  tinggi, terkadang bercampur dengan bekas kotoran kuda.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Betul, di masa itu, hewan kuda masih lumrah lalu lalang di Kota Maumere. Terutama pada Selasa yaitu hari Pasar Maumere, orang dari  berbagai tempat seperti Kangae, Watuliwung, Habi, Brai, Nele, Koting, Nita, Magepanda dan lain lain, biasa masuk keluar Kota Maumere dengan menunggang kuda sambil mengangkut barang dagangan.

Selain berfungsi menjadi sarana transportasi dan pengangkutan, kuda di Maumere di masa itu juga berguna sebagai alat tradisi adat istiadat masyarakat seperti belis dalam suatu perkawinan.

Budaya ini masih berlaku hingga kini walau hewan itu sudah jarang terlihat di kota.

Membayar belis dengan kuda itu menunjukkan martabat adat yang tinggi dalam suatu perikatan keluarga.

Bahwa suatu kesepakatan hubungan perkawinan itu misalnya, telah sah dan resmi dengan meterai belis kuda.

Peletakan batu pertama Menara Lonceng di Gelora Samador setahun lalu, bisa saja diibaratkan sebagai tanda kesepakatan belis yang harus dipenuhi agar dapat dianggap bermartabat.

Pemenuhan dalam artian pembangunan Menara Lonceng itu seharusnya bisa diwujudkan Bupati Robby Idong di sisa waktu berkuasa ini, bila ada anggaran, atau kelak bila ia terpilih kembali.

Atau oleh penggantinya nanti, bersama seluruh stakeholder termasuk masyarakat Maumere di manapun.

Kuda Balap Merah Gondrong
Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dan pengangkutan serta menjadi bagian dari budaya adat istiadat masyarakat, hewan kuda di tahun 1970-an juga pernah diperlombakan dalam arena balap kuda di Stadion Madawat.

Warga Maumere generasi berusia di atas 55-an tentu masih ingat nama-nama kuda favorit di masa itu seperti Merah Gondrong, Putih Kelinci, Kuning Lupa Budi,  Mitan Gatar, dan lain lain.

Di antara kuda lokal asli Maumere, Merah Gondrong adalah jawara. Kuda milik Om Leo dari Wairhubing ini hanya kalah cepat oleh kuda Jupiter atau Saturnus milik Dokter Hillers yang didatangkan dari Pulau Sumba. Mungkin karena soal ukuran fisik dan jangkauan.

Pernah ada ceritera bahwa Merah Gondrong selalu dirawat dengan baik dan diperlakukan secara istimewa oleh pemiliknya.

Merah Gondrong tidak pernah dipakai sebagai alat angkut atau tunggangan kecuali saat berlatih dan berlomba. Konsumsi makan minum Merah Gondrong juga sangat diperhatikan.

Menjelang perlombaan pacuan, Merah Gondrong biasa mendapatkan suplemen tambahan seperti madu bercampur telor ayam dan sedikit takaran moke sehingga konon akan semakin bertenaga.

Namun asupan moke tidak boleh overdosis agar kuda tetap seimbang, tidak menjadi liar tak terkontrol.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Masyarakat Maumere sejak dulu umumnya juga biasa mengonsumsi moke. Minum moke secukupnya mungkin baik untuk kesehatan atau menghangatkan pergaulan.

Tetapi minum moke kebanyakan bisa menghilangkan keseimbangan dalam berpikir, berencana, berperilaku, bertindak mengambil keputusan dan berkata kata.

Setiap pemimpin dalam diskresi atas suatu kebijakan dan upaya pembangunan apapun seharusnya selalu tenang, tidak gegabah grusa grusu dan mempertimbangkan semua aspek terkait secara matang dan terukur.

Demikian pula sebaliknya, dalam lontaran kritis sebagai kontrol publik terhadap proses pembangunan seperti misalnya pada kasus Menara Lonceng yang terkesan mangkrak itu, semua pihak tetap perlu menjaga keseimbangan agar tidak nampak seperti kuda yang mabuk moke.

Kuda Troya
Dalam kisah mitologi Yunani yang ditulis Homeros, terdapat sebuah episode menarik tentang Perang Troya.

Kecerdikan Odisseus dengan strategi kuda kayu berhasil mengelabui lawan, sehingga Kota Troya akhirnya bisa diserbu masuk dan berhasil ditaklukan bala tentara Yunani.

Lubang galian Menara Lonceng Maumere yang mangkrak setahun lebih ini sekarang telah menjadi sasaran tembak.

Di berbagai media, proyek prestisius ini kerap dipergunjingkan pro kontra oleh berbagai elemen masyarakat Sikka. Bupati Robby Idong selaku penggagas ikut menjadi target bully-an masyarakat.

Dalam tahun politik jelang Pilkada 2024, kegagalan pembangunan seperti Menara lonceng tersebut bisa saja menjadi kuda Troya bagi lawan politik.

Ada amunisi untuk menghantam incumbent. Ada juga yang memancing di air keruh. Itu wajar saja dalam dunia politik.

Seperti kalimat Bung Kanis yang sering diulang-ulang oleh Mas Anto da Silva dari Koliaduk, “Berpolitik praktis adalah masuk bersilat taktik dan strategi di arena, dengan akibat yang pasti jelas hanya satu,  siapa salah buka langkah dia terlempar keluar gelanggang“.

Maka Bupati Robby Idong dan semua stakeholder terkait perlu ‘keluar’ bertanggungjawab menjelaskan secara gentleman kepada publik tentang alasan mangkrak dan bagaimana rencana selanjutnya.

Membiarkan mengambang atau membangun apologi tidak akan menyelesaikan persoalan.

Maumere harus bisa juga dikembangkan sebagai kota dengan kesejarahannya sendiri.

Sudah ada monumentalisasi bagi peristiwa maupun nama tokoh pendahulu, namun masih sangat kurang.

Ada beberapa peristiwa dan banyak tokoh lagi yang pantas dikenang masyarakat termasuk Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi kota itu.***

Ditulis oleh Drs. GF Didinong Say, diaspora Maumere, tinggal di Jakarta

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:35 WITA

PMKRI Maumere, Timika, Mataram dan Solidaritas Pemuda-Pemudi NTB Salurkan Bantuan untuk Lansia Terdampak Gempa Flores

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:26 WITA

237 Penyintas Gempa di Gelora Samador da Cunha Maumere Pulang ke Rumah

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:08 WITA

Bupati Sikka Serius Pilkades Serentak Digelar Tahun Ini, Golkar dan Demokrat Tolak

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:31 WITA

Dugaan Korupsi Bencana di Sikka, Bantuan Seng untuk 5.000 Rumah Belum Teralisir

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:01 WITA

Cair! Rp 200 Miliar dari Presiden untuk Penanggulangan Bencana di NTT

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:21 WITA

Dua Korban Gempa Bumi di Palue Jalani Perawatan di Tenda Darurat RSUD TC Hillers Maumere

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WITA

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Berita Terbaru

Petugas kesehatan dari TNI memeriksa kesehatan penyintas gempa bumi yang hendak pulang ke rumah, Senin (24/8)

Bencana Alam

237 Penyintas Gempa di Gelora Samador da Cunha Maumere Pulang ke Rumah

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:26 WITA

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sewaktu berkunjung ke Maumere, Rabu (19/8)

Bencana Alam

Cair! Rp 200 Miliar dari Presiden untuk Penanggulangan Bencana di NTT

Selasa, 25 Agu 2026 - 07:01 WITA