Untuk bisa meraih kesejahteraan, menurut Ansy Lema, pemimpin harus memiliki terobosan inovasi dan kreasi. Alasannya, APBD NTT terbatas sehingga tidak memiliki keleluasaan fiskal.
Melihat postur APBD NTT 2024, pendapatan daerah tercatat sebesar Rp 5,164 triliun. Dari nominal tersebut, sebanyak Rp 1,773 triliun berasal dari PAD, sebesar Rp 3,388 triliun dari Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat (PTPP), dan sebesar Rp 2,55 miliar berasal dari pendapatan hibah.
PTPP digunakan untuk membayar kebutuhan gaji pegawai dan sejumlah program infrastruktur yang masuk dalam Dana Alokasi Khusus. Artinya, 67% APBD NTT berasal dari pusat, sementara kemampuan mandiri NTT melalui PAD hanya sekitar 33%. Padahal, untuk mengeluarkan NTT dari tingkat kemiskinan ekstrim, propinsi kepulauan ini membutuhkan dana yang besar untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisi ini belum ditambah dengan beban cicilan utang pemerintahan sebelummya yang harus dibayar hingga tahun 2029. Karena itu, kita harus mencari sumber pembiayaan alternatif untuk bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” jelas mantan anggota DPR RI ini.
Ansy Lema mengaku dirinya akan mencari sumber-sumber pembiayaan dari pihak ketiga melalui kerja sama dengan Civil Society Organization (CSO) atau Non Governmental Organization (NGO). Juga melalui kerja sama pihak ketiga dengan skema Kerja Sama Daerah dengan Pihak Ketiga (KSDPK) dan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta (KPBU).
Ansy Lema juga akan berupaya meningkatkan PAD. Realisasi PAD NTT sejak 5 tahun terakhir berkisar antara Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,4 triliun. Dia memiliki strategi untuk mengoptimalkan potensi yang ada agar PAD bisa meningkat.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












