Selain itu sejumlah gubernur kolonial Portugis di Timor pasca penandatanganan Perjanjian Lisbon tahun 1859, Gubernur Provinsi Timor Timur (1976-1999), Bupati seprovinsi Timor Timur (1976-1999), Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (1958-2024), Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota dan Wakil Wali Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (1958- 2024), serta sejumlah Resolusi Dewan Keamanan PBB (1975-1982), yang menetapkan Timor-Timur sebagai wilayah tak berpemerintahan sendiri dan berada di bawah administrasi kekuasaan Portugal hingga pelaksanaan referendum tanggal 30 Agustus 1999 menjadi objek tulisan dalam buku ini.
Sisko Pati mengatakan dalam tulisan-tulisan yang tersebar secara online di seluruh dunia dalam berbagai bahasa yang dominasi oleh Portugis dan Inggris, dapat dengan mudah ditemukan ribuan buku, jurnal atau artikel tentang sejarah kolonial Portugis di Timor Leste dan sejarah kolonial Portugis di pulau Flores dan sekitarnya.
Tulisan-tulisan tersebut, kata dia, hendak menggambarkan seolah-olah kehadiran Portugis di Timor Leste memiliki akar sejarah yang berdiri sendiri dan tidak bersangkut paut dengan kehadiran Portugis di Pulau Flores dan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Manurut dia, hal ini karena minimnya literatur yang secara komprehensif menulis tentang sejarah kolonial di kedua wilayah tersebut serta relasinya hingga sebagian besar wilayah kolonial Portugis beralih menjadi milik kolonial Belanda.
Dia mengatakan jika perjalanan sejarah kolonial Portugis di Timor Leste, Flores, Solor, Adonara dan sekitarnya diibaratkan sebagai sebuah sungai, maka wilayah-wilayah tersebut sesungguhnya berasal dari sebuah sungai sejarah yang sama yang mengalir sejak tahun 1512-1859.


Ikuti Kami
Subscribe












