Dia mengaku awalnya belajar dan menekuni bahasa-bahasa itu karena termotivasi dengan keinginannya menjadi seorang diplomat.
“Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya cita-cita itu tidak dapat saya raih. Akhirnya saya memilih menjadi pengacara,” ujar dia.
Di tengah kesibukan sebagai pengacara, Sisko Pati terus menekuni minat dan bakatnya di bidang sejarah kolonial Portugal. Istri dan anak-anaknya mendukung penuh niat dia menuliskan buku ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Diplomat gagal ini semakin bersemangat dengan dukungan dari Ana Maria Rosa Martin Gomes, mantan Duta Besar Portugal untuk Indonesia (2000-2003) dan mantan anggota Parlemen Uni Eropa.
“Senhora Ana bahkan di tengah kesibukannya di Portugal berkenan meluangkan waktu untuk menulis Prolog buku ini dalam bahasa Portugis,” ujar dia bangga.
Eri Seda, menulis Kata Pengantar. Epilog ditulis oleh Pater Doktor Antonio Camnahas, SVD, Dosen Sejarah Gereja pada IFTK Ledalero. Sementara mantan Wakil Gubernur NTT Esthon L. Foenay, kini anggota DPR RI Periode 2024-2029 yang juga pewaris Kerajaan Helong, salah satu kerajaan tertua di pulau Timor memberikan komentar singkat tentang buku ini. Buku ini didesain menjadi menarik oleh Lucky Reiner.


Ikuti Kami
Subscribe












