“Namun hadirnya Perjanjian Lisbon tahun 1859 mengakibatkan pulau Flores, Solor sekitarnya mengalir ke sebuah anak sungai yang baru bernama Residentie Timor en Onderhoorigheden dan kini menjadi salah satu provinsi di Indonesia bernama Nusa Tenggara Timur (Portugis menyebutnya Nusa Tenggara Oriental dan Belanda menyebutnya Oost Nusa Tenggara),” ujar dia.
Sementara itu Timor Portugis yang berubah nama menjadi Timor Timur pasca masuknya militer Indonesia terus mengalir secara konsisten dan berada pada sungai sejarah-nya hingga mencapai kemerdekaannya pada tanggal 20 Mei 2002 dengan nama resmi Republica Democratica de Timor Leste.
Sisko Pati menyadari bahwa buku tersebut tidaklah sempurna. Namun demikian, kata dia, terlepas dari ketidaksempurnaannya, setidak-tidaknya buku ini dapat dijadikan sebagai referensi akademis bagi pelajar/mahasiswa, para peneliti dan akademisi baik di Timor Leste maupun di Indonesia untuk melakukan studi lebih lanjut tentang relasi sejarah kolonial Portugis di Timor Leste dengan Pulau Flores dan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menambahkan buku ini mendapat sambutan hangat dari Profesor Eri Seda seorang Guru Besar Sosiolog UI, yang adalah putri mendiang Frans Seda. Selain itu dia juga menerima apresiasi dari Antonio Salgado, salah satu pegawai Kementerian Pendidikan Tinggi Portugal yang bertugas di Suai Timor Leste. Sebelumnya Antonio Salgado bertugas di Mozambik.
“Dia ingin menjajaki kerja sama alih bahasa karya tulis ini dari bahasa Indonesia ke bahasa Portugis,” ujar Sisko Pati.
Gagal Diplomat
Sisko Pati mengaku memiliki minat besar di bidang sejarah kolonial Portugis. Dia beralasan, selain jati diri orang Flores banyak terbentuk dari jejak kolonial seperti agama, bahasa, budaya, nama dan marga, juga kemampuan berbahasa Inggris, Spanyol dan Portugis.


Ikuti Kami
Subscribe












